SELAMAT DATANG DI BLOG DUNIA DAN KEHIDUPAN

DUNIA DAN KEHIDUPAN, DUNIA DAN KEHIDUPAN

Selasa, 27 September 2011

metode penelitian ilmiah

Edukasi
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Reza Alexander Antonius Wattimena
Saya bekerja menjadi dosen dan Sekretaris Fakultas di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, redaktur Media Budaya On Line untuk Kolom Filsafat www.dapunta.com, anggota Komunitas Diskusi Lintas Ilmu COGITO (dalam kerja sama dengan Universitas Airlangga) di UNIKA Widya Mandala, Surabaya, dan anggota komunitas System Thinking di universitas yang sama. Saya adalah alumnus program Sarjana dan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Saya telah menulis beberapa buku yakni Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Filsafat dan Sains (2008), Filsafat Kriti...
Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah
OPINI | 27 September 2011 | 12:31 12 1 Nihil


Francis Bacon

Oleh Reza A.A Wattimena

Pola berpikir induksi berkembang pesat dalam konteks revolusi saintifik pada abad 16 dan 17.[1] Pada masa itu pula lahirlah apa yang sekarang ini kita kenal sebagai ilmu pengetahuan modern.[2]Disebut revolusi karena pada masa itu, segala pandangan-pandangan lama di dalam masyarakat dengan sangat cepat dibuang, dan segera digantikan dengan pandangan-pandangan baru yang didasarkan pada metode penelitian ilmiah. Perubahan besar ini dimulai dengan karya-karya Galileo Galilei (1564-1642), dan mencapai puncaknya dalam karya Isaac Newton (1642-1727) tentang fisika. Bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan di dalam fisika adalah tanda majunya seluruh ilmu pengetahuan pada masa itu. Fisika adalah garda depan perkembangan ilmu pengetahuan modern.[3]Hal ini terjadi karena ilmu fisika mampu memberikan penjelasan, dan bahkan prediksi, yang kuat atas terjadinya berbagai fenomena alam. Juga di dalam fisika terjadi perkembangan teknologi yang amat pesat, seperti lahirnya teleskop, mikroskop, dan berbagai peralatan lainnya.

Untuk memahami revolusi saintifik yang terjadi pada abad 16 dan 17, kita juga perlu mencermati fenomena yang disebut sebagai revolusi Kopernikan.[4] Intinya begini bahwa pusat dari alam semesta bukanlah bumi (geosentris), melainkan matahari (heliosentris). Apa arti penting dari perubahan pandangan ini? Arti pentingnya terletak pada pokok argumen berikut, bahwa pemikiran Aristoteles (388-322 SM), yang sudah mendominasi dunia selama kurang lebih 500 tahun, runtuh. Dunia –terutama Eropa- mengalami perubahan paradigma yang begitu mengagetkan.[5] Para pemikir baru lahir dengan gagasan dan metode pendekatan yang amat berbeda dengan pola berpikir Aristotelian. Gagasan dan metode tersebut pun terbukti mampu memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang sebelumnya tak ada. Di dalam filsafat ilmu pengetahuan, pengetahuan seringkali diartikan sebagai kepercayaan yang telah terbukti benar. Ilmu pengetahuan modern menyediakan sarana untuk pembuktian, apakah suatu pengetahuan itu layak disebut pengetahuan, atau tidak. Sarana itulah yang disebut sebagai metode, yakni seperangkat prosedur yang bisa digunakan untuk membedakan antara pengetahuan dan bukan pengetahuan.[6]Permasalahannya adalah metode yang berupa seperangkat prosedur itu seringkali tidak cukup memadai untuk digunakan sebagai alat pembeda antara pengetahuan dan bukan pengetahuan. Sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan metode macam apakah yang tepat untuk digunakan di dalam memperoleh pengetahuan yang benar.

Di dalam revolusi saintifik, kritik tajam ditujukan pada paradigma Aristotelian. Namun apa saja inti dari paradigma ini, yang berhasil mendominasi Eropa dan Timur Tengah selama kurang lebih 500 tahun? Aristotelian adalah sebuah aliran berpikir yang memang berpijak pada pemikiran Aristoteles, namun juga mengalami percampuran dengan tradisi-tradisi berpikir lainnya. Pada era abad pertengahan, pemikiran Aristoteles mengalami percampuran dengan ajaran Kristiani. Hasilnya adalah kosmologi (pandangan tentang alam) skolastik yang menjelaskan gerak planet-planet, sampai mengapa benda jatuh ke bawah, ketika dilepaskan. Pandangan ini begitu kuat tertanam di dalam pikiran para intelektual Kristiani abad pertengahan. Isinya kira-kira begini: bumi dan langit adalah dua entitas yang berbeda. Di dalam bumi segala sesuatu berubah, dan akan berakhir pada kehancuran. Di dalam bumi tidak ada yang sempurna. Segala sesuatu yang ada di dalam bumi merupakan campuran dari tanah, udara, api, dan air. Sementara langit adalah entitas yang sempurna dan abadi. Segala sesuatu yang ada di langit, termasuk bintang-bintang, bulan, dan matahari, bersifat permanen; tidak berubah.[7]

Perlu juga diingat bahwa tidak semua pemikir Eropa sepakat dengan pandangan Aristotelian, sebagaimana dibahas di atas. Namun pandangan Aristotelian tersebut rupanya digunakan oleh otoritas Gereja Katolik Roma Eropa pada masa itu, sehingga bisa tetap menjadi paradigma yang dominan. Proses perubahan paradigma terjadi secara perlahan, namun pasti. Memang ada beberapa peristiwa yang kontroversial, seperti konflik Gereja Katolik Roma dengan Galileo Galilei.[8] Pada akhir abad ke-17, pemikiran non-Aristotelian, sebagaimana diperkenalkan oleh Galileo dan Newton, sudah diterima secara umum oleh masyarakat. Salah satu peristiwa yang amat penting, yang amat perlu untuk menjadi catatan bagi kita, adalah terbitnya buku yang berisi teori tentang gerak-gerak planet yang ditulis oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) pada 1543.[9]Di dalam kosmologi Aristotelian, bumi adalah pusat dari alam semesta. Semua benda langit bergerak mengelilingi bumi dalam bentuk lingkaran. Pandangan ini kemudian diperkuat dengan penelitian matematis yang dilakukan oleh Ptolemy dari Alexandria yang hidup sekitar 150 tahun sebelum Masehi.

Kopernikus (Copernicus) melakukan penelitian dengan kesimpulan yang berbeda. Baginya benda-benda langit tidak mengelilingi bumi, melainkan matahari. Matahari adalah pusat dari sistem planet-planet. Benda-benda langit mengelilingi matahari dengan pola berputar. Bumi berputar pada sumbunya sendiri, dan sekaligus mengelilingi matahari. Menurut Ladyman penelitian ini jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan secara matematis.[10]Penelitian Kopernikus dikembangkan kemudian oleh Johannes Kepler (1571-1630). Bahkan ia melengkapinya dengan menyatakan, bahwa gerak bumi dan benda-benda langit lainnya di dalam mengelilingi matahari tidaklah melingkar murni, melainkan elips. Pandangan ini bersama dengan teori grativitasi Newton merupakan simbol terjadinya revolusi saintifik di Eropa. Bahkan sampai sekarang pandangan ini masih menjadi acuan di kalangan komunitas ilmiah.

Ladyman memberikan catatan yang penting tentang pokok gagasan Kopernikus ini, dan relevansinya bagi penelitian ilmiah.[11] Sistem Kopernikus yang nantinya dilengkapi oleh Kepler dan Newton, walaupun amat masuk akal, ternyata seolah bertentangan dengan pengalaman sehari-hari orang kebanyakan. Di dalam realitas sehari-hari, orang tidak merasakan, bahwa bumi berputar. Yang mereka rasakan adalah matahari, bulan, serta bintang mengelilingi bumi, karena memang begitulah tampaknya, ketika kita melihat ke langit. Anda dan saya pun merasakan hal yang sama. Inilah contoh yang amat penting, bahwa teori-teori ilmiah seringkali menjelaskan alam secara berbeda dari apa yang dialami sehari-hari oleh manusia. Di dalam filsafat cabang yang secara khusus merefleksikan hal ini adalah metafisika.[12] Di dalamnya dibedakan dengan tegas antara kebenaran dari sesuatu, dan penampakan sesuatu itu ke mata kita. Apa yang tampaknya terlihat belum tentu adalah yang sebenarnya.[13] Tak heran banyak orang yang tak percaya dengan teori Kopernikus tersebut, walaupun sudah ada pembuktian ilmiah dan pengembangan lebih jauh oleh Galileo, Newton, dan Kepler. Bahkan seperti dicatat oleh Ladyman, teori Kopernikus sempat hanya dianggap sebagai teori ilmiah, dan bukan kebenaran realitas itu sendiri. Di dalam filsafat ilmu pengetahuan inilah yang disebut sebagai instrumentalisme, yakni paham yang berpendapat, bahwa teori-teori di dalam ilmu pengetahuan tidak perlu dianggap sebagai kebenaran, melainkan hanya sebagai fiksi-fiksi yang menyenangkan hati.[14]

Di dalam sejarah tercatat dengan detil bagaimana penelitian Kopernikus, yang kemudian dilanjutkan oleh Galileo, Kepler, dan Newton, menciptakan kontroversi dengan Gereja Katolik Roma. Pada 1616 seluruh buku tulisan Kopernikus dilarang untuk dibaca dan disebarkan atas otoritas Gereja Katolik Roma. Pertanyaan kecil yang bisa diajukan adalah, mengapa Gereja Katolik Roma amat sensitif soal ini? Jawabannya cukup lugas karena pemikiran Kopernikus, dan pengikutnya, tidak hanya memberikan pengaruh pada pandangan Gereja soal alam semesta, tetapi juga pada ajaran-ajaran dasar Gereja Katolik Roma, seperti yang tertulis di dalam Kitab Kejadian, jatuhnya Adam dan Hawa ke dunia, relasi antara manusia dan setan, serta berbagai ajaran dasar Gereja lainnya. Banyak orang ragu pada kebenaran dari ajaran-ajaran Gereja yang sebelumnya sudah dianut selama ratusan tahun di Eropa.[15] Dengan penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan modern, Gereja Katolik perlu untuk merumuskan ulang ajaran-ajaran dasarnya.

Dukungan dari pihak luar terhadap pemikiran Kopernikus pun berdatangan. Salah satu dukungan kuat datang dari pemikiran seorang filsuf yang bernama Francis Bacon.[16] Ia menolak pandangan-pandangan Aristotelian tentang alam semesta, dan mengambil posisi untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menggunakan pendekatan ilmiah yang baru. Di dalam bukunya yang amat terkenal, Novum Organum (1620), ia menjelaskan sebuah metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan modern dengan amat detil. Sampai hari ini banyak ahli berpendapat, bahwa Baconlah yang meletakkan dasar bagi metode penelitian ilmu-ilmu modern, sebagaimana dipahami sekarang ini. Pada masa Bacon hidup, banyak ahli percaya, bahwa para ilmuwan kuno sudah menemukan semua bentuk pengetahuan yang ada. Yang kemudian perlu dilakukan adalah mempelajari ulang semua pemikiran para filsuf kuno. Bacon tidak setuju dengan pandangan ini. Yang diperlukan bukan hanya mempelajari pemikiran-pemikiran kuno, tetapi berusaha untuk menemukan informasi-informasi baru yang berguna untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Di dalam proses perkembangan pemikirannya, Bacon terkenal dengan ungkapannya, knowledge is power.[17]

Cara apa yang digunakan oleh Bacon untuk memperoleh informasi-informasi baru yang ada di alam? Sebagaimana dicatat oleh Ladyman, model berpikir Bacon bersifat egaliter dan kolektif.[18] Artinya setiap orang bisa bekerja sama untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Ilmu pengetahuan adalah milik semua orang, dan bukan sekumpulan orang jenius saja. Proses penelitian ilmiah dipandang sebagai sebuah proses sosial yang melibatkan banyak pihak. Dengan pola pikir ini, banyak pengetahuan baru tentang cara kerja alam bisa didapatkan. Jika anda mencoba membaca jurnal ilmiah kimia sekarang ini, anda akan melihat, bahwa banyak sekali pengarang untuk satu artikel. Dari sini dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa, seperti dikatakan oleh Bacon, ilmu pengetahuan adalah “usaha sistematik dan kolaboratif dengan satu tujuan untuk menghasilkan pengetahuan.”[19] Pengetahuan itu memiliki dampak praktis, seperti membantu manusia untuk memahami dan kemudian mengendalikan alam untuk memenuhi kepentingannya.

Buku tulisan Bacon yang paling terkenal adalah Novum Organum, yang, jika diterjemahkan, berarti alat yang baru. Maksud ditulisnya buku ini adalah untuk menggantikan pola berpikir lama, yakni Aristotelian, yang sebelumnya telah lama dianut, terutama dalam soal logika. Apa itu logika sebagaimana dipahami oleh Aristoteles? Logika adalah ilmu bernalar lurus, yang diwujudkan secara konkret di dalam ilmu tentang argumen.[20] Dalam arti ini bernalar berarti menarik kesimpulan dengan berpijak pada dua pernyataan yang dianggap tepat, walaupun dua pernyataan tersebut memiliki isi yang berbeda. Seperti dicontohkan oleh Ladyman, pola berpikir logika akan mengambil bentuk seperti ini;[21]

Setiap manusia pasti mati

Andre adalah manusia

Dengan demikian Andre pasti mati.

Juga perhatikan contoh berikut;

Semua kucing adalah pemikir hebat

Kucrit adalah kucing.

Dengan demikian Kucrit adalah pemikir hebat.

Di dalam argumen pertama, kita bisa melihat, bahwa dua premis pertama bisa dibenarkan. Maka premis ketiga yang merupakan kesimpulan juga bisa dibenarkan. Sementara pada argumen kedua, premis pertama masih diragukan kebenarannya. Maka premis ketiga yang merupakan kesimpulan juga masih bisa diragukan kebenarannya. Hukum logika dasar sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles adalah sebagai berikut, jika premis ada yang salah, maka kesimpulan pasti salah. Jika kesimpulan salah maka premis masih bisa benar, walaupun harus dipastikan lebih jauh.[22]

Inilah yang disebut sebagai pola berpikir deduktif, yakni refleksi rasional tentang argumentasi. Logika Aristoteles adalah suatu bentuk pola berpikir deduktif. Dari beberapa premis (argumen yang telah ada), orang bisa menarik kesimpulan yang begitu banyak, dan sampai pada banyak bentuk pengetahuan. Menurut Ladyman kekuatan utama dari pola berpikir deduktif adalah kemampuannya untuk mempertahankan kebenaran (truth preserving). Artinya jika premis sudah terbukti benar, maka kesimpulan, jika ditarik secara logis, juga akan mengandung kebenaran.[23] Pola berpikir deduktif tidak menghasilkan pengetahuan baru, namun hanya menarik pengetahuan dari apa yang sudah ada, yang sebelumnya tampak tersembunyi.[24]

Dari sudut pandang ilmu modern, pola deduktif tidak terlalu berguna, karena dianggap tidak memiliki dasar empiris, dan tidak membuka orang pada pengetahuan baru. Misalnya jika kita ingin tahu pengaruh matahari pada kain katun, kita tidak bisa menggunakan pola berpikir deduktif. Kita harus menjemur kain katun di panas matahari, sampai semua dampaknya terlihat. Di dalam paradigma ilmu pengetahuan modern, aktivitas penelitian selalu terkait dengan proses pengumpulan data, eksperimen, dan mengamati secara detil apa yang terjadi di dalam dunia. Paham semacam ini lahir dari pandangan empirisme di dalam filsafat, yakni pandangan yang menyatakan, bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui pancara indera manusia, dan bukan melalui pikiran semata. Pengetahuan sebagai kepercayaan yang dapat dipertanggungjawabkan perlu memiliki bukti-bukti yang diperoleh melalui pengumpulan data.[25]

Memang Aristoteles telah melakukan penelitian yang amat luas terkait dengan pengumpulan data di bidang ilmu-ilmu alam, seperti zoologi, biologi, dan sebagainya. Namun ia tidak pernah melakukan eksperimen. Cara berpikir yang ia gunakan pun adalah logika deduktif. Francis Bacon sebagai seorang filsuf modern tidak setuju dengan model berpikir ini. Ia pun merumuskan sebuah logika induktif yang memberikan tempat penting pada pengalaman inderawi dan eksperimen.[26] Inti dari logika induktif adalah pengumpulan data sebanyak mungkin terkait dengan fenomena yang diteliti, eksperimen, dan penarikan kesimpulan berdasarkan eksperimen yang dilakukan dengan berpijak pada data yang telah ada.

Rupanya logika induktif semacam itu tidak luput dari kelemahan. Bacon sudah sejak awal menyadari hal ini. Seorang ilmuwan idealnya mampu bersikap skeptis, dan siap untuk mematahkan pandangan lama yang ada sebelumnya. Ia juga tidak boleh menarik kesimpulan terlalu cepat dari hal yang dilihatnya. Namun di dalam realitas, banyak ilmuwan tidak bisa mencapai ideal ini. Bacon menyebutnya sebagai para ilmuwan yang terjebak di dalam idola-idola pikiran. Akibat adanya idola-idola pikiran ini, seorang ilmuwan tidak bisa menerapkan pola berpikir induktif secara tepat.[27]

Menurut Bacon ada beberapa jenis idola. Yang pertama adalah apa yang disebut sebagai idola tribus, yakni kecenderungan orang untuk melihat adanya tatanan dan kebiasaan di dalam alam, padahal tatanan ataupun kebiasaan itu sebenarnya tidak ada. Ladyman memberikan contoh begini. Dulu orang berpendapat bahwa matahari, bulan, dan bintang bergerak mengelilingi bumi dalam bentuk lingkaran yang sempurna. Pandangan ini dipegang begitu erat, walaupun belum terbukti benar.[28] Bahkan semua pandangan yang bertentangan dengan pandangan ini dianggap salah. Goenawan Mohamad menyebut ini sebagai ilusi adanya koherensi pada sesuatu yang sebenarnya tidak koheren, atau tidak sekoheren yang kita bayangkan.[29]

Yang kedua adalah idola cava, atau idola gua. Idola ini adalah halangan yang terjadi, karena kelemahan orang yang cara berpikirnya dipengaruhi oleh suka ataupun tidak suka, atau juga oleh sikap tempramen yang akhirnya menjadi prasangka di dalam melihat realitas. Yang ketiga adalah idola pasar, yakni kebingungan yang terjadi, akibat penggunaan bahasa ataupun kata yang tak tepat. Satu kata bisa memiliki beberapa makna. Makna yang berbeda bisa menimbulkan kebingungan, dan menciptakan perdebatan yang tidak produktif. Yang keempat –yang terakhir- adalah idola teater, yakni sistem berpikir filsafat yang menggiring orang pada pengetahuan yang tidak tepat. Misalnya pola berpikir deduktif di dalam filsafat Aristoteles yang diterapkan tanpa sikap kritis.[30]

Jadi Bacon mengajukan sikap kritis terhadap pola berpikir manusia pada umumnya. Dia berhasil memetakan hal-hal yang membuat pikiran manusia tidak bisa sampai pada realitas “apa adanya”. Namun sebagaimana dicatat oleh Ladyman, Bacon juga memberikan beberapa kerangka berpikir yang baru di dalam proses pencarian pengetahuan. Inilah yang nantinya berkembang menjadi metode induktif, yang digunakan di dalam penelitian ilmiah sampai sekarang ini. Metode yang ditawarkannya dimulai dari pengamatan yang, sedapat mungkin, terbebas dari idola-idola, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Proses yang perlu dicapai adalah pengumpulan informasi tentang suatu hal sebanyak mungkin, dan merangkainya secara bertahap untuk mencapai kesimpulan, serta membentuk pengetahuan yang baru. Di dalam proses ini, pengamatan dan eksperimen merupakan dua hal yang amat penting.[31] Di dalam pengamatan kita hanya mendapatkan data mentah yang tak banyak gunanya. Namun di dalam eksperimen, di mana terjadi rekayasa terhadap situasi realitas, supaya kita mendapatkan data yang diperlukan, kemungkinan untuk mendapatkan pengetahuan baru lebih besar. Di dalam eksperimen kita bisa mengatur situasi yang ada, sehingga “kita dapat melihat apa yang terjadi di dalam situasi-situasi tertentu yang tidak akan terjadi di dalam situasi-situasi lainnya.”[32] Di dalam eksperimen kita bisa mengajukan pertanyaan dengan pola berikut, “apa yang terjadi jika…?” Inilah yang disebut Bacon, sebagaimana dikutip oleh Ladyman, sebagai upaya “menyiksa alam untuk mendapatkan rahasianya.”[33]

Menurut Ladyman suatu eksperimen ilmiah juga harus memiliki standar-standar tertentu. Yang pertama baginya eksperimen harus dapat diulang, supaya orang lain bisa mengecek, apakah hasil dari eksperimen tersebut bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.[34] Maka dari itu semua proses dan hasil eksperimen haruslah dicatat secara detil dengan instrumen-instrumen yang memungkinkan semua proses itu diukur secara kuantitatif. Tujuannya adalah supaya persepsi individu tidak mempengaruhi hasil penelitian yang nantinya akan disampaikan kepada orang lain. Inilah penelitian ilmiah yang ideal menurut Francis Bacon. Baginya peran alat-alat penelitian amatlah penting untuk melenyapkan semua bentuk kelemahan inderawi, bias, dan prasangka akal budi yang menghalangi peneliti untuk sampai pada kebenaran. Dengan kata lain eksperimen ilmiah, dan berbagai alat yang ada di dalamnya, bertujuan untuk memastikan adanya obyektivitas di dalam penelitian ilmiah. Hal ini tidak hanya berlaku untuk ilmu-ilmu alam semata, tetapi juga ilmu-ilmu sosial.[35]

Alat penelitian digunakan untuk mengumpulkan data. Data dapat diperoleh dengan dua cara, yakni dengan mengamati data pada situasi alamiahnya, atau dengan melakukan eksperimen data tersebut pada situasi tertentu, supaya mendapatkan hasil yang ingin diketahui. Dengan cara ini seorang peneliti bisa dihindarkan dari bahaya mencari kesimpulan sesuai keinginannya semata, walaupun bahaya itu tak pernah bisa dhindarkan sepenuhnya. Sejalan dengan falsifikasi Karl Popper,[36] seorang peneliti tidak hanya terpaku pada hasil-hasil yang mendukung penelitiannya, tetapi juga pada hasil-hasil yang berbeda dari keinginannya. Inilah yang membuat pola berpikir induktif, yang terwujud di dalam metode induksi, unik dan amat penting di dalam proses penelitian ilmiah. Inti dari metode induksi adalah upaya untuk mempelajari semua informasi yang ada, dan menemukan kesamaan, perbedaan, sesuatu yang berulang, maupun berbagai pola yang ada di dalam informasi itu. Proses ini dijalani tidak dengan spekulasi semata, tetapi dengan membuat eliminasi atas yang tidak relevan (yang tak memiliki benang merah), dan menggaris bawahi hal-hal yang relevan (yang memiliki benang merah).

Dalam arti ini menurut Bacon, tugas utama dari ilmu pengetahuan adalah menemukan forma (bentuk sejati) dari benda-benda yang ada. Sebelum era Bacon para filsuf dan ilmuwan berupaya untuk menemukan tujuan final dari benda-benda. Yang dilihat bukan cara bekerja benda itu, tetapi tujuan final dari keberadaan benda itu. Namun di tangan Bacon, pola semacam ini berubah. “Diabaikannya pencarian atas penyebab final”, demikian tulis Ladyman, “adalah salah satu penyebab utama lahirnya revolusi saintifik.”[37] Yang lebih penting bukanlah tujuan final dari benda-benda, melainkan pola kerja mekanis yang menyebabkan benda-benda itu bisa bekerja pada awalnya. Penting juga untuk dicatat, bahwa di era sekarang ini, jauh setelah era Bacon, para ilmuwan mulai sadar pentingnya memikirkan tujuan final dari benda-benda yang mereka teliti. Ini penting untuk dipikirkan, supaya penelitian ilmiah tidak bergerak tanpa arah, dan bisa merusak hidup manusia pada akhirnya.[38]

Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa bagi Bacon, fokus pencarian ilmu pengetahuan adalah forma, yakni bentuk sejati, yang hadir dalam bentuk prinsip-prinsip umum yang menyebabkan bergeraknya suatu benda. Artinya yang dicari ilmu pengetahuan adalah prinsip-prinsip gerak mekanis yang ada di balik gejala alam. Prinsip-prinsip semacam itu tidak dapat diketahui dengan panca indera, namun dapat diketahui dengan akal budi, dan sungguh terjadi di dalam realitas. Kita tidak bisa melihat prinsip-prinsip mekanis yang menggerakan alam, namun kita bisa melihat gejala-gejalanya di dalam hidup sehari-hari.

Dari seluruh uraian tentang pola berpikir induktif ini, dengan mengacu pada Bacon sebagai filsuf yang merumuskannya secara sistematis, kita dapat menarik dua konsep kunci di dalam induksi, yakni observasi dan penarikan kesimpulan empiris.[39] Observasi –atau pengamatan- haruslah dilakukan tanpa prasangka apapun. Di dalam pengamatan panca indera kita menangkap segala sesuatu yang terjadi di dunia. Dengan panca indera pula kita menangkap informasi yang ada di dalam eksperimen. Hasil dari pengamatan adalah apa yang disebut Ladyman sebagai penyataan-pernyataan observasional.[40] Inilah dasar dari semua bentuk teori maupun hukum di dalam ilmu pengetahuan. Dari pernyataan-pernyataan observasional ini, ilmuwan lalu membuat sebuah teori dengan melakukan generalisasi yang masuk akal. Ini berlaku baik untuk ilmu-ilmu alam, maupun ilmu-ilmu sosial.[41]

Pertanyaan kritis berikutnya adalah, bagaimana membuat suatu penarikan kesimpulan induktif dari pernyataan-pernyataan observasional itu layak dilakukan? Misalnya bisakah kita menarik kesimpulan, bahwa semua anjing berwarna hitam dari pengamatan kita yang sudah amat banyak tentang anjing yang, sejauh kita lihat, memang selalu berwarna hitam? Di dalam pandangan induksi yang naif, jawabannya adalah ya. Rumusnya begini; sejauh kita sudah melihat cukup banyak anjing, dan ternyata semua berwarna hitam, maka kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa semua anjing berwarna hitam. Inilah pola pandangan induktif naif yang banyak kita gunakan, baik di dalam penelitian ilmiah, maupun kehidupan sehari-hari.

Jika mau dirumuskan dengan sangat singkat, pola berpikir induktif adalah “prinsip berpikir yang menarik kesimpulan dari pengamatan terhadap kejadian-kejadian partikular menuju pada generalisasi dari kejadian-kejadian itu..”[42] Syaratnya adalah pengamatan yang dilakukan harus bersih dari semua bentuk prasangka. Jika semua ini sudah dilakukan, maka, menurut Ladyman, pengetahuan yang kita peroleh adalah pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Pengetahuan ini nantinya bisa kita gunakan untuk menjelaskan berbagai hal yang ada di dunia, ataupun untuk melakukan prediksi kejadian di masa depan.

[1] Ladyman, James, Understanding Philosophy of Science, Routledge, London, 2002.

[2] Gaugkroger, Stephen, The Emergence of a Scientific Culture, Clarendon Press, Oxford, 2006, hal. 352.

[3] Heisenberg, Werner, Physics and Philosophy, Penguin Book, England, 1958, hal. vii.

[4] Ladyman, James, Understanding…., hal. 15.

[5] Wattimena, Reza A.A., Filsafat dan Sains, Grasindo, Jakarta, 2008, hal. 129.

[6]Gower, Barry, Scientific Method, Routledge, London, 1997, hal. 24.

[7] Ladyman, James, Understanding…., hal. 15.

[8]Shea, William R. dan Artigas, Mariano, Galileo in Rome, Oxford University Press, Oxford, 2003, hal. 49.

[9]Owen Gingerich and James MacLachlan, Nicolaus Copernicus, Oxford University Press, Oxford, 2005, hal. 102.

[10]Ladyman, James, Understanding…., hal. 16.

[11] Ibid, hal. 17.

[12] Loux, Michael J., Metaphysics, Routledge, New York, 1998, hal. 264.

[13] Wattimena, Reza A.A., Filsafat Kritis Immanuel Kant, Evolitera, Jakarta, 2010, hal. 24.

[14] http://plato.stanford.edu/entries/scientific-progress/#ReaIns diakses pada Kamis 18 Agustus 2011.

[15] Ladyman, James, Understanding…., hal. 18.

[16] Budi Hardiman, F., Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta, 2004, hal.

[17] Ibid, hal.

[18] Ladyman, James, Understanding…., hal. 18.

[19] Ibid, hal. 19.

[20] Tomassi, Paul, Logic, Routledge, London, 1999, hal. 2.

[21] Ladyman, James, Understanding…., hal. 19.

[22] Ibid.

[23] Walton, Douglas, Informal Logic, Cambridge, Cambridge University Press, 2008 hal. 168.

[24] Ibid.

[25] Brown, Stuart (ed), British Philosophy and The Age of Enlightenment, Routledge, London, 1996, hal. 316.

[26] Peltonen, Markku (ed), Cambridge Companion to Bacon,Cambridge University Press, Cambridge, 2006, hal. 324.

[27] Budi Hardiman, Filsafat Modern.., hal.

[28] Ibid, hal.

[29] Mohamad, Goenawan, www.goenawanmohamad.com diakses 27 September 2011 pada tulisan “Pada Mulanya Bukan Negara”

[30] Gaukroger, Stephen, Francis Bacon, Cambridge University Press, Cambridge, 2004. hal. 122.

[31] Ibid, hal. 71.

[32] Ladyman, James, Understanding…., hal. 23.

[33] Ibid.

[34] Wattimena, Reza A.A, Filsafat dan Sains, hal. 157.

[35] Ladyman, Understanding.., hal. 23.

[36] Gattei, Stefano, Karl Popper’s Philosophy of Science, Routledge, London, 2009, hal. 73

[37] Ladyman, Understanding.., hal. 26.

[38] Ibid.

[39] Gaukroger, Stephen, Francis Bacon, …hal. 180.

[40] Ibid, hal. 172.

[41] Ladyman, Understanding.., hal. 28.

[42] Ibid, hal. 29

Penulis adalah Dosen Filsafat, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya


Tags: induksi, bacon, filsafat, ilmu pengetahuan, sains
Share

Laporkan
Tanggapi
Beri Nilai

KOMENTAR BERDASARKAN :


Christianto Dm
27 September 2011 14:23:42
0

Tulisan yg menarik Pak Reza. Sejarah perkembangan Filsafat yg bisa memberi banyak info trmasuk materi2 Filsafat serta tokoh2nya.
- - - - - - - - -
Memikirkan bbrp topik di sini, saya ingin mncatat bbrapa poin yg smpat trpikir oleh saya, yg jika Bapak berkenan saya ingin mngetahui pandangan Bapak atasnya:

1. Saya pikir, kedua metoda, deduksi dan induksi, sama-sama pentingnya di dlm struktur logis apapun termasuk bagi penelitian ilmiah. Keduanya berperan bergantian dalam suatu cross-examine; pengujian silang. “Produk” deduksi diuji scr induktif, dan sebaliknya. Dgn demikian, metode mana yg lebih dulu digunakan dlm suatu konstruksi logis, bknlah persoalan ketika salah satu metode “wajib” menguji validitas konklusi metode lainnya.
Sbg contoh:
Jika telah ditetapkan suatu generalisasi sbg hasil uji materi (observasionalisasi) induktif, terlebih bagi sebuah konsep ilmiah, bukankah itu harus berlaku scr normatif? Artinya apa/bagaimana jika ditemukan suatu ‘penyelewengan’ fakta dr generalisasi tsb? Mengingat konklusi ‘diolah’ dari fakta2 yg “meragukan” (berubah2 sbg fakta dimensional dan inderawi)
Selain itu, ada satu peranan aksioma yg tdk dpt diabaikan, yaitu asumsi. Asumsi ini scr deduktif bisa diberlakukan sbg konklusi yg mmbutuhkan pengujian-silang scr induktif. Namun bg metoda induksi, asumsi bisa mnunjukkan kekuatan probabilitas bagi suatu premis dlm silogisme induktif. Scr sderhana, bagi kebenaran keberadaan fakta asumtif dlm metoda induksi ini ialah konklusi induksi yg tdk 100% bisa ditetapkan sbg kepastian mutlak. Tentu saja scrr logis, silogisme induktif akan memberikan kesimpulan yg lebih bersifat probabilitas drpd kepastian.
Krn itulah sy berkesimpulan bahwa kedua metoda, tdk dapat dipisahkan. keduanya sama pentingnya di dlm proses perkembangan pebngetahuan, baru pun tidak.

2. Saya menangkap sdikit kesan dr ALINEA KEDUA dari akhir artikel Bapak ini:
Saya pikir, ttg semua anjing berwarna hitam dlm contoh di atas tdk mesti berartipandangan induksi yg naif. Pertanyaannya ialah apakah kita tdk dipengaruhi prasangka ketika ‘menuduh’ dmikian? Prasangka yg sy maksud ialah bahwa kenyataan yg kita temui adalah tdk semua anjing berwarna hitam. Bagaimana seandainya semua manusia mengalami kenyataan bahwa anjing berwarna hitam? *Saya sambil membayangkan kenyataan ini dgn MENGABAIKAN pengalaman saya yg sbelum2nya*
Spt kutipan ttg Francis Bacon di atas bahwa model berpikir Bacon adalah egaliter dan kolektif. Singkatnya, apakah maksud ‘pandangan yg naif’ di atas benar2 murni memikirkan data2 observasi yg digambarkan dlm contoh yg dimaksud ataukah terpengaruh fakta bahwa tdk semua anjing berwarna hitam?

Trims buat waktu dan kesempatan untuk belajar dari Bapak.

Salam damai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mp3 gusdur