Selasa, 12 Desember 2023
Jumat, 08 Desember 2023
Rabu, 06 Desember 2023
UCAPKAN INSYAALLAH.......
Kaitan Hari Esok dan Pentingnya Ucapkan Kalimat Insya Allah
Hari esok merupakan rahasia Allah SWT semata.
REPUBLIKA.CO.ID, Tak ada yang bisa menebak apakah yang akan terjadi pada hari esok. Segala yang berkenaan dengan hari esok adalah rahasia Allah SWT semata.
Sponsored
Allah SWT telah memberikan pernyataan-Nya dalam surat Luqman 34:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
''Sesungguhnya hanya pada sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan dan mengetahi apa yang ada dalam rahim. Dan tak seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diperolehnya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.''
Mengomentari ayat ini, Muhammad Asad dalam bukunya The Massage of The Quran menyatakan bahwa yang ada dalam rahim tidak hanya berkaitan dengan jenis kelamin embrio, tapi juga dengan persoalan ia akan lahir atau tidak; kalau lahir, bagaimana watak dan karakternya, juga apa peranan yang akan dimainkannya dalam hidup; hidup itu sendiri (dalam ayat tadi) disimbolkan dengan hujan, sedangkan akhir hidup di dunia dengan hari kiamat.
Sedangkan A Yusuf Ali dalam karyanya The Holy Quran menyatakan bahwa ''apa yang akan diperolehnya besok'' dalam ayat tersebut tidak hanya berarti ''memperoleh penghidupan'' dalam arti fisik, tapi juga memperoleh berbagai akibat (baik atau buruk) dari tindakan seseorang secara umum. Secara sederhana dapat diartikan ''tak seorang pun yang tahu apa yang akan ditimbulkan hari esok''.
Walaupun tidak bisa dengan pasti meramal apa yang akan diperoleh besok, bukan berarti kita tak perlu berusaha. Dengan mengevaluasi apa yang telah kita lakukan, kita harus mengantisipasi apa yang akan kita perbuat besok:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr [59]: 18).
Dan terhadap sesuatu yang akan dilaksanakan besok, kita harus mengaitkannya dengan kehendak Tuhan, dengan mengucapkan ''Insya Allah'':
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).
sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Klik
Selasa, 05 Desember 2023
Jumat, 01 Desember 2023
Rabu, 29 November 2023
Rabu, 01 November 2023
Sabtu, 28 Oktober 2023
Sejarah Palestina
Video Lagu Lagu Palestina
Senin, 23 Oktober 2023
PENGERTIAN TTG KHILAFAH
authorSyaifullah
Selasa, 25 Agustus 2020 | 18:09 WIB
Pakar: Khilafah Bukan Ajaran Islam, Istilahnya Saja Tidak Ada di Al-Quran
Setelah Rasulullah SAW wafat, persoalan yang muncul di kalangan umat Islam justru bukan masalah aqidah, melainkan politik. Gonjang-ganjing politik setelah kepergian Nabi dimulai dari perbedaan status kaum Muslimin di Madinah, yakni kaum Ansar dan Muhajirin.
Ketegangan di antara sabahat baru reda setelah Abu Ubaidah bin Jarrah hadir sebagai penengah. Kedua belah pihak baik kaum Ansar maupun Muhajirin yang sebelumnya terlibat dalam perbedaan pandangan akhirnya sepakat, Abu Bakar dibaiat sebagai khalifah penerus kepemimpinan Rasulullah.
Pada era khulafaur rasyidin, pergantian khalifah menggunakan sistem yang tidak sama: ada yang menggunakan musyawarah melalui semacam ahlul halli wal aqdi, ada yang ditunjuk khalifah sebelumnya, dan ada yang dipilih khalayak ramai. Sementara, pada era Umayyah, Abbasiyah, hingga Usmaniyah, diangkat berdasarkan darah keturunan.
Dosen Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Abdul Gaffar Karim mengungkapkan bahwa khilafah bukanlah ajaran Islam. Khilafah adalah praktik pengelolaan pemerintahan masyarakat Islam selama beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah.
“Ada empat pendukung terdekat Rasulullah selama masa inkubasi di Madinah. Mereka lalu bergantian memimpin pasca wafatnya Rasul. Mereka disebut khalifah, Sang Penerus Rasulullah,” tulis Gaffar dalam akun facebooknya.
Masing-masing khalifah dari Abu Bakar hingga Ali bin Abi Thalib memimpin seumur hidup. Keseluruhannya juga dipilih dengan cara yang berbeda. “Cara memilih yang berbeda-beda itu terjadi karena memang tak ada rujukan yang definitif tentang praktik pemerintahan dalam ajaran Islam. Yang ada ialah rujukan moral,” lanjur Gaffar.
Setelah era pemerintahan empat khalifah itu, kata Gaffar, dimulailah era pemerintahan monarki yang dinastik dan absolut. Penandanya adalah konflik politik yang menewaskan cucu Rasulullah. Pembunuhnya adalah penguasa pertama di sebuah dinasti.
“Sejak itu, hingga tahun 1930an, dinasti politik bergantian (kadang beririsan) berkuasa secara absolut di sebagian dunia Islam. Setiap penguasa yang dinastik dan absolut itu menyebut dirinya khalifah,” ungkap Gaffar.
Hal senada pernah diungkapkan Prof Nadirsyah Hosen. Menurut dosen tetap di Fakultas Hukum Monash University, Melbourne, Australia, banyak terjadi kerancuan di kalangan umat mengenai penggunaan istilah Khalifah, Khilafah, dan juga Khalifatullah fil Ardh.
“Tidak ada istilah Khilafah dalam al-Qur’an. Tidak ada istilah Khalifatullah fil Ardh dalam al-Qur’an. Dan hanya dua kali al-Qur’an menggunakan istilah Khalifah, yang ditujukan untuk Nabi Adam dan Nabi Dawud,” kata Prof Nadirsyah Hosen sebagaimana dikutip dari NU Online.
Menurut Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand ini, penggunaan terminologi atau istilah Khalifah itu hanya digunakan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, dalam QS 2:30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
“Konteks ayat ini, berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam AS. Ini artinya Nabi Adam dan keturunannya telah Allah pilih sebagai pengelola bumi. Penggunaan istilah Khalifah di sini berlaku untuk setiap anak cucu Adam,” ujar Gus Nadir, sapaan akrabnya.
Ayat lain menyebut:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia....” (QS 33:72)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS 17:70).
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS 21: 105)
Menurut pria yang memperoleh gelar magister dari dua kampus berbeda di Australia: Master of Arts (studi Islam) di University of New England dan Master of Laws (studi hukum) di Northern Territory University ini potensi semua manusia menjadi khalifah juga disinggung oleh hadits Nabi SAW:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya” (Sahih al-Bukhori, Hadits No 4789).
Kedua, ayat terakhir yang menyebut istilah Khalifah itu adalah yang berkenaan dengan Nabi Dawud: “Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...” (QS 38:26).
“Harap diingat bahwa Nabi Dawud adalah Raja Bani Israil. Dalam ayat di atas, Nabi Dawud diperintah untuk memberi keputusan dengan adil. Inilah spirit ajaran Qur’an: keadilan. Sehingga amanah sebagai Khalifah (pemimpin) harus diwujudkan dengan prinsip keadilan. Kata adil dalam al-Qur’an disebut sebanyak 28 kali. Pada titik ini, tidak satupun ayat mengenai Khalifah bicara mengenai sistem pemerintahan. Tentu ini dapat dipahami karena ada jarak yang jauh antara Nabi Adam dan Nabi Dawud dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW” kata putra Prof. KH. Ibrahim Hosen, seorang ahli fikih kenamaan, dan Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama dua dekade (1981-2000).
Gus Nadir mengatakan, istilah Khalifah dalam konteks kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah SAW muncul setelah beliau wafat. Titel kepemimpinan Abu Bakar itu Khalifatur Rasul (Pengganti Rasul). Karena tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, maka Abu Bakar menggantikan beliau dalam kapasitas sebagai pemimpin umat, bukan pengemban kenabian.
“Maka gelar Khalifah tetap dipakai, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat Khalifah kedua, ketiga dan keempat dipanggil dengan sebutan Amirul Mu’minin (pemimpin orang-orang beriman). Tradisi ini diteruskan oleh Bani Umayyah,” ungkap Gus Nadir.
Menurut pria kelahiran 8 Desember 1973 itu, sepeninggal Bani Umayyah, muncul istilah baru di masa Khalifah ketiga Abbasiyah, yaitu Al-Mahdi. Di masa Al-Mahdi ini perlahan titel khalifah bergeser, dari semula sebagai khalifah penerus Rasul, kini menjadi Khalifatullah fil Ardh. Khalifah Allah di muka bumi, seolah menjadi bayang-bayang kekuasaan Allah di bumi. Maka, perlahan Khalifah Al-Mahdi duduk di balik tirai dan sejumlah urusan penting pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada wazir (semacam perdana menteri).
Istilah khalifatullah fil Ardh ini, lanjutnya, juga tidak ada dalam al-Qur’an. Yang ada dalam al-Qur’an itu istilah “khalaif al-ardh” atau “khalaif fil ardh”. Misalnya: “Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalaif al-ardh (penguasa-penguasa di bumi) dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS 6:165)
“Kemudian Kami jadikan kamu khalaif fil ardh (pengganti-pengganti di muka bumi) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”. (QS 10:14).
“Jadi, sekali lagi menjadi jelas bahwa penggunaan kata khalifah dalam al-Qur’an digunakan merujuk ke Nabi Adam dan Nabi Dawud, bukan merujuk kepada khalifah sepeninggal Nabi Muhammad. Tidak ditemukan istilah Khilafah dalam al-Qur’an,” kata Gus Nadir.
Gus Nadir menyarankan sebaiknya jangan mengklaim sebuah istilah seolah ada dalam al-Qur’an padahal tidak ada sama sekali. Begitu pula istilah Khalifatullah fil ardh, yang penggunaannya sangat politis dilakukan oleh Abbasiyah untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka. Lantas apa bedanya khalifah dengan khilafah? Khilafah belakangan ini telah menjadi sebuah istilah yang bermakna sistem pemerintahan.
“Pemerintahan Khilafah ini sudah bubar sejak tahun 1924. Maka tepat kita katakan ‘Islam Yes, Khilafah No’. Bukan saja kita bilang No karena sudah bubar, dan digantikan oleh negara-bangsa, tapi juga istilah Khilafah tidak ada dalam al-Qur’an. Istilahnya saja tidak ada, apalagi bentuk dan sistem pemerintahan yang baku juga tidak terdapat penjelasannya di dalam al-Qur’an. Bisakah seorang menjadi Khalifah tanpa ada Khilafah? Bisa. Kenapa tidak? Bukankah kita semua sebagai anak cucu Nabi Adam adalah pewaris dan pengelola bumi? Ini khalifah dalam pengertian Qur’an, bukan dalam konteks sistem Khilafah ala HTI,” ujarnya.
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Syaifullah
#
Senin, 16 Oktober 2023
Minggu, 15 Oktober 2023
Kamis, 12 Oktober 2023
Nama nama akun atau rekening
Istilah Akuntansi Dalam Bahasa Inggris dan Artinya
Account Payable (Hutang Dagang)
Account Receivable (Piutang Dagang)
Accrued Expense (Hutang Biaya)
Acumulated depreciation of building (Akumulasi Penyusutan Gedung)
Acumulated depreciation of equipment (Akumulasi Penyusutan Peralatan)
Acumulated depreciation of land (Akumulasi Penyusutan Tanah)
Acumulated depreciation of machine (Akumulasi Penyusutan Mesin)
Acumulated depreciation of motor vehicle (Akumulasi Penyusutan Kendaraan)
Acumulated depreciation of office equipment (Akumulasi Penyusutan Peralatan Kantor)
Acumulated depreciation of store equipment (Akumulasi Penyusutan Peralatan Toko)
Administrative Expense (Biaya Administrasi)
Advertising Expense (Biaya Iklan)
Allowance For Doubtful Debt (Penyisihan Kerugian Piutang)
Assets (Harta)
Bad Debt Expense (Biaya Kerugian Piutang)
Bank Payable / Loan From Bank (Hutang Bank)
Bank Service Charge (Biaya Administrasi Bank)
Bond Payable (Hutang Obligasi)
Building (Gedung)
Cash In Bank (Kas di Bank)
Common Stock (Saham)
Commosion Income (Pendapatan Dari Komisi)
Consignment Income (Pendapatan Dari Konsinyasi)
Cost Of Goods Sold (Harga Pokok Penjualan)
Current Assets (Harta Lancar)
Depreciation Expense (Biaya Penyusutan Harta}
Depreciation Expense Of Building (Biaya Penyusutan Gedung)
Depreciation Expense Of Equipment (Biaya penyusutan Peralatan)
Depreciation Expense Of Furniture And Fixture (Biaya Penyusutan Perabot/Inventaris)
Depreciation Expense Of Machine (Biaya Penyusutan Mesin)
Depreciation Expense Of Motor Vehicle (Biaya Penyusutan Kendaraan)
Depreciation Expense Of Office Equipment (Biaya Penyusutan Peralatan Kantor)
Depreciation Expense Of Store Equipment (Biaya Penyusutan Peralatan Toko)
Devidend (Pengambilan Saham)
Equipment (Peralatan)
Equity (Modal)
Expense (Biaya)
Fare Income (Pendapatan Dari Angkutan)
Fees Earned (Honor)
Fixed Assets (Harta Tetap)
Franchise (Hak Istimewa)
Freight In (Ongkos Angkut Pembelian)
Freight Out (Ongkos Angkut Penjualan)
Furniture And Fixture (Perabot & Inventaris)
Goodwill (Nama Baik)
Income From Joint Venture (Pendapatan Dari Usaha Petungan)
Income Summary (Ikhtisar Laba Rugi)
Income Tax Expense (Biaya Pajak Penghasilan}
Insurance Expense (Biaya Asuransi)
Intangible Fixed Assets (Harta Tidak Berwujud)
Interest Expense (Biaya Bunga)
Interest Income (Pendapatan Bunga)
Interest Payable (Hutang Bunga) Hutang Bunga
Interest Receivable (Piutang Bunga)
Investment In Bond (Investasi Dalam Obligasi)
Investment In Common Stock (Investasi Dalam Saham)
Land (Tanah)
Leasing (Hak Sewa)
Liabilities (Kewajiban)
Long Term Investment (Investasi Jangka Panjang)
Machine (Mesin)
Marketable Securities (Surat-Surat Berharga)
Merchandise Inventory (Persediaan Barang Dagangan)
Miscellanious Expense (Biaya Rupa-Rupa)
Mortgage Payable (Hutang Hipotek)
Motor Vehicle (Kendaraan)
Motor Vehicle Expense (Biaya Kendaraan)
Notes Payable (Hutang Wesel)
Notes Receivable (Piutang Wesel)
Office Equipment (Peralatan Kantor)
Office Salaries Expense (Biaya Gaji Kantor)
Office Supplies (Perlengkapan Kantor)
Office Supplies Expense (Biaya Perlengkapan Kantor)
Other Income (Pendapatan Lain-Lain)
Other Operating Expense (Biaya Operasi Lainnya)
Paid Up Capital (Setoran Modal)
Petty Cash (Kas Kecil)
Preferred Stock (Saham Preferen / Istimewa)
Prepaid Advertising (Iklan Dibayar Dimuka)
Prepaid Expense (Biaya Dibayar Dimuka)
Prepaid Insurance (Ansuransi Dibayar Dimuka)
Prepaid Rent (Sewa Dibayar Dimuka)
Prive (Pengambilan Pribadi)
Purchase (Pembelian)
Purchase Discount (Potongan Pembelian)
Purchase Return (Pengembalian Pembelian)
Recovery Income (Pendapatan Diterima Kembali)
Rent Expense (Biaya Sewa)
Rent Income (Pendapatan Sewa)
Retained (Laba Ditahan)
Revenue (Pendapatan)
Salaries Payable (Hutang Gaji)
Sales Discount (Potongan Penjualan)
Sales (Penjualan)
Sales Return (Pengembalian Penjualan)
Salesmen Salaries Expense (Biaya Gaji Bagian Penjualan)
Store Equipment (Peralatan Toko)
Store Salaries Expense (Biaya Gaji Toko)
Store Supplies (Perlengkapan Toko)
Store Supplies Expense (Biaya Perlengkapan Toko)
Supplies (Perlengkapan)
Supplies Expense (Biaya Perlengkapan Toko)
Tax Payable (Hutang Pajak)
Telephone & Electeicity Expense (Biaya Telepon dan Listrik)
Temporary Investment (Investasi Jangka Pendek)
Unearned Rent (Sewa Diterima Dimuka)
Unearned Revenue (Pendapatan Diterima Dimuka)
Utilities Expense (Biaya Prasarana)
Vat In (PPN Masukan)
Vat Out (PPN Keluaran)
Wages & Salaries Expense (Biaya Upah dan gaji)
Selain daftar istilah akuntansi dalam bahasa inggris tersebut, ada juga istilah akuntansi yang mungkin pernah Anda dengar dalam bahasa Indonesia tapi belum tahu istilahnya dalam bahasa inggris, berikut ini informasinya untuk Anda:
Istilah Akuntansi Dalam Bahasa Indonesia ke Inggris
Akrual (Accruals)
Aktiva Tetap (Fixed Assets)
Akumulasi Penyusutan (Accumulated Depreciation)
Akun Aset (Asset Accounts)
Akun Beban (Expense Accounts)
Akun Ekuitas (Equity Accounts)
Akun Kewajiban (Liability Accounts)
Akun Kontra (Contra Accounts)
Akun Modal Pemilik (Owner’s Equity Account)
Akun Nominal/ Akun Laba-Rugi (Nominal Accounts)
Akun Penarikan Modal Pemilik / Prive (Owner’s Withdrawal Account)
Akun Pendapatan (Revenue Accounts)
Akun Permanen (Permanent Accounts)
Akun Riil/ Akun Neraca (Real Accounts)
Akun Sementara (Temporary Accounts)
Akun/ Rekening (Accounts)
Akuntan Industri/ Akuntan Biaya (Cost Accountance)
Akuntan Publik Bersertifikat (Certified Public Accountace – CPA)
Akuntansi (Accounting)
Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting)
Akuntansi Biaya (Cost Accounting)
Akuntansi Intern (Internal Accounting)
Akuntansi Keuangan/ Akuntansi Umum (Financial Accounting/ General Accounting)
Akuntansi Manajemen (Management Accounting)
Akuntansi Pemeriksaan (Auditing)
Akuntansi Pemerintahan (Governmental Accounting)
Akuntansi Perpajakan (Tax Accounting)
Akuntansi Publik (Public Accounting)
Aset (Assets)
Aset Tak Berwujud (Intangible Assets)
Asuransi Dibayar di Muka (Prepaid Insurance)
Ayat Jurnal (Journal Entry)
Ayat Jurnal Koreksi (Correction Entries)
Ayat Jurnal Pembalik (Reversing Entries)
Ayat Jurnal Penutup (Closing Entries)
Ayat Jurnal Penyesuaian (Adjusting Entry)
Bahasa Bisnis (Business Language)
Beban (Expenses)
Beban Gaji (Salary Expense)
Beban Iklan (Advertising Expense)
Beban Operasi (Operasional Expenses)
Beban Penyusutan (Depreciation Expense)
Beban Sewa (Rent Expense)
Bentuk Akun (Account Form)
Bentuk Akun Stafel (Balance Column Accounts)
Bentuk Bertahap (Multiple Step Form)
Bentuk Langsung (Single Step Form)
Buku Besar (General Ledger)
Catatan atas Laporan Keuangan (Notes of Financial Statements)
Dasar Akrual (Accrual Basis)
Dasar Tunai / Dasar Kas (Cash Basis)
Debit (Debit)
Dokumen Sumber (Source Document)
Ekuitas Pemilik (Owner’s Equity)
Horizontal/ Bentuk Akun T (T Account Form)
Ikhtisar Laba-Rugi (Income Statement Summary)
Investasi Jangka Panjang (Longterm Investment)
Jurnal Dua Kolom (Two Column Journal)
Jurnal Khusus (Special Journal)
Jurnal Penyesuaian (Adjustment Journal)
Jurnal/ Buku Harian (Journal)
Kas (Cash)
Keluaran (Barang atau Jasa=Output)
Kewajiban (Liabilities)
Kewajiban Akrual (Accrued Liabilities)
Kewajiban Jangka Panjang (Longterm Debts)
Kewajiban Lain-lain (Other Liabilities)
Kewajiban Lancar (Current Liabilities)
Konsep Penandingan (Matching Concept)
Konsep Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Concept)
Kredit (Credit)
Kreditor (Creditur)
Laba (Profit)
Laba Bersih sebelum Pajak (Net Income before Taxes)
Laba Bersih setelah Pajak (Net Income after Taxes)
Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow)
Laporan Ekuitas Pemilik (Statement of Owner’s Equity)
Laporan Keuangan (Financial Statement)
Laporan Laba-Rugi (Income Statement)
Manajer (Manager)
Neraca (Balance Sheet)
Neraca Lajur/ Kertas Kerja (Worksheet)
Neraca Saldo (Trial Balance)
Neraca Saldo setelah Penutupan (Post Closing Trial Balance)
Neraca Saldo yang Disesuaikan (Adjusted Trial Balace)
Organisasi Nirlaba (Non-profit Oriented Organization)
Pelanggan (Customer)
Pemegang Buku (Book Keeper)
Pemeriksa Intern (Internal Auditor)
Pemilik Perusahaan (Owner)
Pemindah Bukuan (Posting)
Penanam Modal (Investor)
Penangguhan (Deferrals)
Pendapatan Diterima di Muka (Unearned Revenue)
Pendapatan Jasa (Service Revenue)
Penjurnalan (Journalizing)
Peralatan Kantor (Office Equipment)
Periode Akuntansi (Accounting Periode)
Perlengkapan (Supplies)
Persamaan Dasar Akuntansi (Accounting Equation)
Perusahaan Dagang (Merchandising)
Perusahaan Jasa (Service Company)
Perusahaan Manufaktur (Manufacturing)
Perusahaan Persekutuan (Partnership)
Perusahaan Perseorangan (Proprietorship)
Perusahaan Perseroan (Corporation)
Piutang Usaha (Accounts Receivable)
Porsekot/ Premi (Prepaid)
Proses Akuntansi (Accounting Process)
Proses Penyesuaian (Adjusting Process)
Rugi (Loss)
Saldo (Balance)
Saldo Normal Akun (Normal
Seimbang (Balance)
Sewa Dibayar di Muka (Prepaid Rent Expense)
Siklus Akuntansi (Accounting Cycle)
Sistem Akuntansi Berpasangan (Double Entry System)
Sumber Daya (Input)
Tanah (Land)
Transaksi Bisnis (Business Transaction)
Transaksi Eksternal (External Transaction)
Transaksi Internal (Internal Transaction)
Utang Beban/ Beban Akrual (Accrued Expenses)
Utang Usaha (Accounts Payable)
Utilitas (Utilities Expenses)
###---###
⚡ by copas
Minggu, 08 Oktober 2023
SHOLAWAT NARIYAH, KEUTAMAANNYA
detikHikmah
Khazanah
Bacaan Sholawat Nariyah dan Keutamaan Mengamalkannya
Anisa Rizki Febriani Sholawat nariyah adalah bacaan yang ditujukan kepada Rasulullah SAW. Seperti sholawat pada umumnya, isi sholawat nariyah menunjukkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW.
Sholawat nariyah tergolong ke dalam sholawat gharu ma'tsurat yang artinya bukan berasal dari Rasulullah SAW. Mengutip buku Kumpulan Shalawat Nabi Super Lengkap susunan Ibnu Wanitiniyah, sholawat ghairu ma'tsurat dibuat oleh para ulama dan orang-orang saleh yang ketakwaan dan ilmunya tidak diragukan lagi.
Baca juga:
Lirik Sholawat Allahul Kafi Lengkap dengan Terjemahannya
Dijelaskan dalam buku Shalawat Populer oleh Suhaidi Ghazali dan Shabri Shaleh Anwar disebutkan sejumlah pendapat terkait pencipta sholawat nariyah. Sebagian mengatakan seseorang bernama As-Sanusy adalah pencipta sholawat nariyah, sementara pendapat lainnya menyebut Syekh Nariyah yang menciptakannya.
Syekh Nariyah hidup di masa Rasulullah SAW dan merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad yang menekuni bidang ketauhidan. Ia kerap memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan Nabi SAW.
Suatu ketika, Syekh Nariyah melantunkan sholawat yang ia susun sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, Syekh Nariyah mendapat karamah dari Allah SWT dan ditetapkanlah sholawat nariyah tersebut.
Bacaan Sholawat Nariyah: Arab, Latin, dan Arti
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Arab latin: Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman 'alâ sayyidinaa Muhammad alladzî tanhallu bihil 'uqadu wa tanfariju bihil kurabu wa tuqdhâ bihil hawaaiju wa tunâlu bihir raghâ-ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghamâmu biwajhihil karîmi wa 'alâ âlihi wa shahbihî fi kulli lamhatin wa nafasin bi-'adadi kulli ma'lûmil laka
Artinya: "Ya Allah , limpahkanlah rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad yang dengan perantaranya dapat melepas segala kerepotan atau ikatan, menghilangkan segala kesusahan, mendatangkan segala hajat, tercapainya husnul khatimah, dan terpenuhi segala keinginan, diturunkan hujan dari awan berkat wajahnya yang mulia dan juga kepada keluarganya dan sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan tarikan napas, sebanyak pengetahuan yang Engkau miliki."
Keutamaan Melantunkan Sholawat Nariyah
Merangkum arsip detikHikmah, berikut sejumlah keutamaan sholawat nariyah.
1. Diijabah Hajatnya
Anjuran bersholawat disampaikan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Mundah dan Jabir.
Rasulullah SAW bersabda: "Siapa membaca sholawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali) maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia."
2. Pemecah Masalah dan Menghilangkan Kesedihan
Dalam kitab an-Nuzhah yang juga dikutip dalam Khazinatul Asrar, Rasulullah juga bersabda,
"Perbanyaklah sholawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan.
3. Memohon Ampunan
Rutin mengamalkan sholawat akan memperoleh permohonan ampunan dan semakin dekat dengan Rasulullah SAW, sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah dalam kitab Imam an-Nawawi.
Nabi SAW bersabda:
"Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu."
4. Dibebaskan dari Musibah
Disampaikan Syekh Al-Qurthuby, membaca sholawat nariyah dapat menunaikan hajat dan bebas dari musibah.
"Bila dibaca 4.444 kali dalam satu majlis (sekali duduk), maka akan ditunaikan hajatnya yang besar dan dibebaskan dari musibah yang sangat membahayakan."
Demikian bahasan tentang sholawat nariyah dan informasi terkaitnya. Jangan lupa diamalkan ya!
Sabtu, 07 Oktober 2023
SHALAWAT ASYGHIL
detikHikmah
Khazanah
Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap, Ini Keutamaan dan Sejarahnya
Jihan Najla Qatrunnada - detikHikmah
Sabtu, 19 Agu 2023 19:00 WIB
BAGIKAN
Jakarta - Sholawat Asyghil adalah salah satu sholawat yang sering dilantunkan di majelis - majelis taklim untuk menjauhkan umat Islam dari orang-orang yang zalim.
Ketika sholawat Asyghil ini dikumandangkan, hati para pendengarnya pun akan menjadi bergetar dan tenang. Sehingga banyak orang yang ingin melantunkannya agar mendapat ketenangan tersebut.
Berikut bacaan sholawat Asyghil yang dikutip dari buku Kumpulan Doa, Dzikir, dan Sholawat Al Khoirot karya A. Fatih Syuhud.
Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap dengan Latin dan Arti
اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِل الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Arab latin: Allahumma shalli ala sayyidina muhammadin, wa asyghili dzalimin bi dzalimin allahumma shalli ala sayyidina muhammadin, wa asyghili dzalimin bi dzalimin wa akhrij-na min bainihim saalimin, wa ala aalihi wa shahbihi ajmain.
Artinya: "Ya Allah, berikanlah sholawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan limpahkanlah sholawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau."
Keutamaan Sholawat Asyghil
Dilansir dalam buku Kita Harus Bershalawat karya Dian Erwanto, Imam Al-Ghazali mengatakan, satu sholawat mengandung banyak kebaikan. Sebab, eksistensi sholawat adalah pokok dari keimanan yang jika diamalkan maka telah memperbarui keimanan kepada Allah SWT, kemudian memperbarui keimanan kepada Rasulullah SAW.
Di samping itu, ada sejumlah manfaat bagi yang mengamalkan sholawat Asyghil. Berikut di antaranya:
1. Dilimpahi Keberkahan
Menurut buku The Story Behind the Power of Sholawat karya Ayu Aprilianti, sholawat atas Nabi Muhammad SAW dapat membuat kita selalu dilimpahi berkah dan selamat dari hal-hal negatif.
2. Bernilai Ibadah
Mengamalkan sholawat bernilai ibadah seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓٮِٕكَتَهٗ يُصَلُّوۡنَ عَلَى النَّبِىِّ ؕ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا
Arab latin: Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna 'alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ 'alaihi wa sallimụ taslīmā
Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.
3. Didoakan Malaikat
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, "Jika orang bersholawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan baginya, untuk itu bersholawatlah, baik sedikit maupun banyak." (HR Ibnu Majah dan Thabrani)
Melantunkan sholawat Asyghil dapat pula berguna sebagai penggugur dosa dan mengangkat derajat umat islam. Bahkan disebutkan ketika sholawat Asyghil dikumandangkan dalam majelis, maka cahaya rahmat Allah SWT akan turun.
Sejarah Sholawat Asyghil
Dikutip dari laman NU Online, sholawat Asyghil ternyata sudah dikenal sejak masa akhir Dinasti Bani Umayyah pada tahun 41-133 H atau sekitar 661 - 750 M.
Sholawat ini dimunculkan pertama kali oleh cucu kelima Rasulullah SAW, Jafar bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Al-Murtadlo suami dari Fatimah az-Zahra. Beliau adalah induk dari pendiri Mazhab Hanafi dan pendiri Mazhab Maliki.
Sholawat Asyghil dimunculkan dalam kitab Al-Kawakibul Mudhiah di Ash - Shalati Ala Khairil Bariyyah karangan Habib Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Aqil bin Muhammad bin Abdullah bin Umar Al - Hinduan al-Baalawi. Selanjutnya dipopulerkan di tanah Nusantara oleh para ulama-ulama moderat.
(rah/rah)
sholawat asyghil (sumber copas)
Senin, 02 Oktober 2023
Hidup dalam keterbatasan
Kamis, 28 September 2023
MAULUD NABI MUHAMMAD SAW.
Di manakah engkau Hai MUHAMMAD yang mengaku sebagai Nabi?
Assalaamu'alaikum wr.wb.
KISAH..... SEORANG ANAK NASRANI YANG TERTEMBAK SAAT PERINGATAN MAULID NABI
Pada saat itu, di Libanon Selatan, kebiasaan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, mereka rayakan secara turun temurun dan selalu dimeriahkan dengan menembakkan senjata api ke atas untuk menunjukkan kegembiraan.
Ketika itu seorang anak Nasrani Dari keluarga Ghatas yang terkenal terlihat asyik menonton meriahnya peringatan Itu.
Tanpa disadari, sebuah peluru nyasar menembus kepalanya.
Anak itu pun jatuh tersungkur bersimbah darah dan seketika itu juga ibunya berteriak histeris.
Maka dengan segera anaknya dilarikan ke RS. GHASAN HAMUD.
Tetapi RSGH angkat tangan karena tidak mampu menangani pendarahan yg begitu hebat.
Lantas anak itu dirujuk ke RS. AMERIKA yang memiliki banyak dokter ahli dan spesialis.
Tapi begitu melihat kondisi anak itu mereka juga angkat tangan.
Karena panik penuh kecewa, ibu sang anak berteriak dengan kerasnya sambil berseru:
"Di manakah engkau Hai MUHAMMAD yang mengaku sebagai Nabi?
"Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku karena merayakan hari kelahiranmu"
Pada saat itu dokter kepala yang memimpin perawatan keluar ruangan menemui sang ibu dan memintanya agar melihat anaknya untuk yang terakhir kali.
Ibu nasrani itu dengan lemas dan dipapah masuk ke ruangan, diikuti dengan keluarnya para dokter.
Namun Keajaiban terjadi...
Ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, ternyata dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur sambil berteriak:
"Tutup semua pintu dan jendela nya ibu!! Dia jangan diperbolehkan keluar!!
Antara percaya dan tidak Si ibu mendekati anaknya untuk memastikan kondisi anaknya.
Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal.
Kondisi anaknya begitu sehat dan bugar serta tidak ada bekas luka tembakan sama sekali di kepalanya.
Apalagi bercak darah.
"Anakku apa yang terjadi..?“
"Ibu, dia datang mengelus kepalaku sambil tersenyum.“
“Siapa dia sayang"?
“MUHAMMAD…
Muhammad...Ibu.“ jawab anak itu...
Subhanallah.....
Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh NABI AGUNG MUHAMMAD SAW.....
Beberapa menit kemudian...
Berkumpullah semua dokter untuk melihat kenyataan di hadapan mereka.
Maka ibu, anak dan semua dokter nasrani yang menyaksikan keajaiban tersebut saat itu juga mengikrarkan syahadat (masuk Islam).
"Kami bersaksi tiada Tuhan yang patut disembah kecuali ALLAH dan Muhammad benar-benar utusan dan Hamba ALLAH"
Ini kejadian nyata yang ditakdirkan oleh ALLAH untuk menunjukkan keagungan junjungan kita Sayyidina Muhammad Shalallaahu 'alaihi wasalam
Tiada yang tidak mungkin bagi ALLAH...!
Shallu 'Alan Nabi…!!!!
Kutipan - ceramah dari Ulama Libanon ...
KALAU BANGGA PUNYA NABI SEPERTI BAGINDA RASULULLAAH SAW, SILAHKAN BAGIKAN!!!
Semoga yg membagikn selalu mendapat pertolongan Allah SWT
AAMIIN..YAA.. ROBBAL 'AALAMiN..🙏🙏🙏
Rabu, 27 September 2023
Senin, 18 September 2023
Jumat, 15 September 2023
Kamis, 14 September 2023
Minggu, 10 September 2023
Jumat, 08 September 2023
Rabu, 06 September 2023
Selasa, 05 September 2023
BencaNa th 2004 sunami Aceh
DO'A UTK KETENANGAN HATI
Doa agar hati tenang dapat kita baca sebagaimana diamalkan oleh para Nabi dan Rasul. Doa agar hati tenang dapat kita baca saat mengalami gelisah atau galau karena persoalan hidup. Kunci ketenangan dalam hidup adalah hati yang damai dan tenang. Segala bentuk permasalahan kehidupan yang menjadi alasan diri kita menjadi gelisah dan galau akan lenyap dengan memohon doa kepada Allah 'Azza wa Jalla. Doa ketenangan hati dimaksudkan untuk memohon sekaligus memasrahkan segala permasalahan yang ada dalam hidup kita kepada Allah sang pemilik hati dan Dzat yang membolak-balikkan hati. Berikut beberapa Doa yang akan membuat hati tenang saat galau atau gelisah:
1. Doa Agar Hati Tenang
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani, wa a'udzubika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatiddaini wa qohrirrijal
Artinya: "Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih, duka cita, maupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebatilan serta sifat pengecut, dan beban utang serta tekanan orang-orang jahat." Doa ini merupakan salah satu doa yang diucapkan Rasulullah SAW untuk membuat hati menjadi tenang dan terhindar dari perasaan cemas.
2. Doa Dilapangkan Hati dan Dimudahkan Segala Urusan
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي Robbisrohli shodri wayassirli amri wahlul 'uqdatam millisani yafqahu qauli
Artinya: "Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lancarkanlah lidahku supaya mereka paham ucapanku." Doa ini merupakan doa Nabi Musa 'alaihissalam ketika menghadapi kesulitan kala menghadapi Firaun. Doa tersebut merupakan doa untuk memohon ketenangan dalam hati dan diberikan kemudahan dalam setiap aktivitas yang akan dilakukan.
3. Doa Memohon Ketenangan Saat Gelisah
لّا إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ، سُبْحَانَكَ، إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh-zhaolimin.
Artinya: "Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang zalim." Doa ini dibaca oleh Nabi Yunus 'alaihissalam. Dengan memanjatkan doa tersebut, kegelisahan kita terhadap setiap masalah akan lenyap, karena secara sadar dan paham kita telah berucap "Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Allah) yang berarti kita yakin bahwa semua berasal dari Allah dan hanya Allah yang bisa menyelesaikannya.
4. Doa Agar Tidak Galau
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Waidza sa-alaka 'ibadi 'anni fa inni qorib, ujibu da'watad da'i idza da'aani falyastajibuli wal yu'minu bi la'allahum yarsyuduun.
Artinya: "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala (perintah Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." Doa ini merupakan potongan Surat Al-Baqarah ayat 186. Dengan membaca doa tersebut, perasaan galau yang ada dalam hati kita akan hilang, karena dalam doa ini ada penegasan bahwa Allah selalu dekat dengan kita.
Demikian beberapa doa agar hati tenang yang perlu kita ketahui. Semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan.
Senin, 04 September 2023
Ttg PENCIPTAAN MANUSIA
QS. Az-Zumar Ayat 6
خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنْۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ فَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ
6. Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) kemudian darinya Dia jadikan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan?
Kamis, 31 Agustus 2023
Sabtu, 26 Agustus 2023
Jumat, 25 Agustus 2023
Senin, 21 Agustus 2023
Selasa, 15 Agustus 2023
Senin, 14 Agustus 2023
Minggu, 13 Agustus 2023
Jumat, 11 Agustus 2023
Bahasa Arab Al Qur'an
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIIM....
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkonter dan meluruskan para penista Islam dan bahasa Arab. Melalui tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk belajar memetik hikmah dan nilai kearifan untuk tetap mencintai Islam dan bahasa Arab, meskipun banyak orang membenci keduanya. Islam dan bahasa Arab merupakan dua entitas yang memiliki relasi sangat kuat, bahkan mustahil dipisahkan. Karena, selama umat Islam masih membaca, mengkaji, dan memahami Alquran dan sunnah Nabi SAW, pasti berada dalam puasaran bahasa Arab. Menjadi Muslim itu memang tidak identik menjadi seperti orang Arab, tetapi mengerti dan menguasai bahasa Arab bagi Muslim itu merupakan modal intelektual dan spiritual yang sangat berharga.
Salah satu kunci untuk dapat membuka rahasia makna dan kemukjiztan Alquran adalah bahasa Arab. Tanpa memahami gramatika, balaghah, dan stilistika bahasa Arab, mustahil ayat-ayat Alquran dapat dipahami dengan benar, baik, dan mendalam. Keagungan bahasa Arab bukan hanya karena “ditetapkan dan dilantik” –meminjam istilah Emha Ainun Nadjib—menjadi bahasa Alquran, tetapi juga karena berbagai alasan logis dan sosiologis. Dalam perspektif linguistik, bahasa Arab itu merupakan bahasa rumpun Semit tertua yang eksistensinya “dirawat, dijaga, dan dikokohkan” oleh Alquran yang mendapatkan garansi pemiliharaan dari Allah SWT (QS al-Hijr/15:9)
Umat Islam meyakini bahwa pemeliharaan Allah SWT dari segala usaha untuk merubah, memalsukan, dan mendistorsi Alquran tidak akan pernah berhasil, karena –berbeda dengan kitab suci agama lain yang cenderung mengalami manipulasi dan distorsi dari tangan-tangan jahil manusia—Alquran banyak dibaca, dihafal, dikaji, ditafsirkan, dan diamalkan oleh umat Islam. Bahkan empat kali ayat Alquran menegaskan: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar/54:17, 22, 32, dan 40). Oleh karena itu, sejak diturunkan di masa Nabi SAW hingga saat ini dan mendatang, para penghafal Alquran itu selalu bermunculan. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa salah satu bentuk kemukjizatan Alquran adalah dimudahkannya untuk dipelajari dan dihafalkan oleh siapapun yang mau mempelajari dan menghafalkannya.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Alquran yang berbahasa Arab ini dimudahkan untuk dipelajari, dihafalkan, dan juga diajarkan? Apa motivasi utama yang menggerakkan banyak orang mempelajari Alquran? Agar bahasa Alquran itu dipahami dan dikuasai, dan umat Islam semakin mencintai kitab sucinya, meneladani sunnah Nabinya, dan menjadikan Islam sebagai agama kasih sayang bagi semesta raya, bagaimana mengembangkan pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran? Bukankah di masa-masa awal perluasan wilayah kekuasaan Islam, bahasa Arab dipelajari dan dikonstruksi keilmuannya seperti nahwu, sharaf, balaghah, tajwid, dan sebagai bentuk Khidmah (service, pengabdian) terhadap Alquran, antara lain, karena menguatnya kebutuhan umat Islam non-Arab untuk dapat memahami sumber ajaran Islam?
Bahasa Arab Alquran
Para ahli bahasa Arab sepakat bahwa bahasa Arab Alquran merupakan bahasa paling fasih, paling indah, bernilai sastra tinggi, bergaya bahasa menarik, dan mengandung makna yang luas dan mendalam. Tidak ada bahasa di dunia yang memiliki kemampuan menampung dan memberi nuansa makna (semantik) seperti bahasa Arab. Dalam Maqalat fi al-Lughah wa al-Adab, Tammam Hassan menilai bahasa Arab itu sangat unik dan menarik, karena salah satu keistimewaannya adalah ekonomis, hemat kata, tetapi padat dan luas makna. Banyak konstruksi sebuah kata yang mengandung banyak makna ketika distrukturkan dalam berbagai kalimat yang jelas. Kata “dharaba”, misalnya, artinya tidak tunggal yakni memukul, tetapi juga dapat berarti: bergerak, bepergian, mendirikan (tenda), menutup (telinga, kepala), membagi (bilangan), membuat (perumpamaan), memegang, meniup, menyengat, menyerang, menggempur, dan sebagainya.
Sedemikian ekonomisnya, sehingga diformulasikan sebuah kaidah semantik Arab: “Ta’addud al-ma’ani li mabna wahid” (Terdapat multikmakna dari sebuah kata). Oleh sebab itu, belajar bahasa Arab Alquran menghendaki penguasaan konteks teks maupun konteks sosial-kultural, konteks internal maupun konteks eksternal. Jadi, kemultimaknaan sebuah kata sangat ditentukan oleh struktur kalimat dan konteks yang mengiringi penggunaan kata itu. Sebagai contoh, kata /ma/ makna gramatikal dan semantiknya tidak hanya “apa” untuk menanyakan sesuatu, seperti: “Ma ismuka”? (Apa/siapa namamu?), tetapi juga dapat berarti tidak (negasi), makna maushuliyyah (relative pronouns), ta’ajjubiyyah (interjection), menyatakan kekaguman, mashdariyyah (seperti /an/), syarthiyyah (conditional), dan sebagainya.
Bahasa Arab sebagai bahasa Alquran juga bukan semata-mata karena Rasululullah SAW itu orang Arab dan kaumnya adalah bangsa Arab, melainkan banyak faktor dan hikmah dapat dijadikan pelajaran linguistik mengapa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Dalam konteks ini, Alquran menjelaskan bahwa “Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS az-Zukhruf/43:3). Senada dengan ayat ini, “Sesungguhnya, Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf/12:2). Selain itu, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fushshilat/41:3). Menurut Ibn Katsir, bahasa Arab itu merupakan bahasa paling agung dan mulia (asyraf al-Lughat) dengan karakteristik yang istemewa dan sempurna.
Sebagai bukti kesempurnaan Alquran, dapat diverifikasi bahwa tidak akan pernah ada bacaan yang sebanding atau dapat menandingi Alquran dari sisi kedalaman makna maupun keindahan tata bahasa. Menurut M. Quraisy Shihab, Alquran terbebas dari keterbatasan ruang dan waktu. Walaupun turun di masa Nabi Saw dan menggunakan Bahasa Arab, namun inspirasi Alquran akan selalu relevan sampai kapanpun, di manapun dan bagi masyarakat di belahan dunia manapun. Paling tidak ada dua alasan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa Alquran. Pertama, karena Alquran diturunkan pertama kali di Tanah Arab. Kedua, karena bahasa Arab adalah media komunikasi manusia yang memiliki kosa kata sangat banyak. Bahasa Arab memiliki lebih dari 12 juta kosakata. Makin banyak kosakata yang dimiliki suatu bahasa, maka bisa semakin jelas dan luas pengertian, makna, dan pesan yang dikandungnya. Ketiga, ini pendapat penulis, bahasa Arab Alquran itu sangat logis, rasional, dan kontekstual, tidak mengandung sedikitpun kecacatan atau kekeliruan, baik dari segi gramatika, semantik, maupun stilistik dan pragmatiknya. “Ialah Alquran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS az-Zumar/39:28)
Menurut Izzath Uroosa, dalam Learning Arabic Language of the Qur’an, bahasa Arab adalah bahasa yang sangat indah. Bagi orang beriman, Alquran membuka dunia baru di mana kejahatan harus ditolak dan kebajikan harus dipromosikan. Seballiknya, orang-orang yang tidak beriman dapat merasakan efek magis (magical effects) dari Alquran, tetapi tidak ingin mengubah hidup mereka. Bahasa Al-Qur’an berbeda dengan bahasa Arab modern. Oleh karena itu, dua aliran bahasa wahyu Ilahi yang sama membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda.
Pembelajaran Berbasis Alquran
Para linguis Arab bersepakat bahwa Alquran merupakan poros studi Islam, sumber utama kajian, penelitian, dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits tidak hanya menarik perhatian para ulama dan fuqaha’ dalam beristinbat hukum, menetapkan status hukum berbagai persoalan sosial keumatan, tetapi juga menginspirasi lughawiyyun (para linguis) untuk memformulasikan ilmu nahwu, ilmu Sharaf, ilmu al-bayan, ilmu al-Ma’ani, Ilmu al-badi’ yang kemudian diintegrasikan menjadi ilmu al-balaghah, ilmu uslub, dan tadawuliyah (pragmatiknya).
Fakta sejarah menunjukkan bahwa para nuhat (ulama nahwu dan sharaf) pada umumnya adalah para qurra’ (penghafal dan pengamal qira’ah tertentu dari berbagai ragam bacaan Alquran). Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama dipelajari dan diajarkannya kaidah-kaidah dasar bahasa Arab adalah untuk mengenal dan memahami ayat-ayat Alquran yang berbahasa Arab, terutama untuk non-Arab. Jadi, tujuan awal pembelajaran bahasa Arab adalah menjadi bahasa Arab sebagai media (kunci pembuka) pemahaman dan pemaknaan ayat-ayat Alquran, terlebih lagi pada masa awal kodifikasi Ilmu nahwu (awal abad kedua hijriyyah) Alquran belum bertitik, berharakat, dan bertanda baca seperti sekarang.
Oleh karena itu, nahwu yang diformulasikan para ulama nahwu pada periode awal bukanlah nahwu ilmi (bercorak akademik dan saintifik), melainkan nahwu ta’limi dan amali (nahwu edukasional dan operasional, praktis dan sederhana, tidak filosofis dan tidak berorientasi kepada I’rab). Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Arab itu pada awalnya merupakan bentuk fasilitasi Muslim non-Arab untuk bisa membaca, memahami, dan memaknai ayat-ayat Alquran, agar mereka tidak salah dalam membaca Alquran, terutama ketika menjadi imam shalat.
Ilmu nahwu (dan sharaf) lalu berkembang menjadi nahwu ‘ilmi, nahwu saintifik yang diformulasikan sedemikian rupa setelah pemikiran logis (kaidah-kadiah logika) mewarnai kajian dan pengembangan ilmu nahwu. Nahwu ‘ilmu semakin mendapat momentum pengembangannya ketika para intelektual Islam bersentuhan dengan tradisi helenistik atau pemikiran filsafat Yunani, sehingga muncullah teori ‘awamil (teori faktor) dalam ilmu nahwu, dengan asumsi dasar bahwa perubahan bunyi akhir kata dalam struktur kalimat itu dipengaruhi oleh ‘amil (faktor penyebab), baik lafzhi (eksplisit) maupun ma’nawi (implisit). Logika berpikir “illiyah” (mencari dan menemukan relasi sebab-akibat) inilah menjadikan nahwu bercorak filosofis, dan kemudian dikesankan rumit dan sulit.
Implikasi dari formulasi kaidah-kaidah nahwu yang cenderung filosofis itulah pembelajaran gramatika bahasa Arab (nahwu dan sharaf) cenderung mengalami reduksi dan disorientasi, dari nahwu edukasional menjadi nahwu rasional dan konseptual, tidak nahwu fungsional dan operasional. Oleh karena itu, pembelajaran gramatika bahasa Arab dipandang perlu dikembalikan kepada orientasi semula, yaitu belajar bahasa Arab untuk kepentingan memahami ayat-ayat Alquran. Nahwu bukan untuk nahwu, tetapi nahwu harus fungsional dan operasional sebagai alat untuk membaca dan memahami teks Alquran.
Dengan demikian, solusi strategis yang diharapkan dapat mengatasi kegundahan dan kerumitan belajar bahasa Arab, khususnya gramatikanya, adalah menjadikan Alquran sebagai basis pembelajaran bahasa Arab. Artinya, pembelajaran bahasa Arab itu pada level pemula dirancang untuk mengenal bunyi bahasa Arab Alquran, kosakata Alquran, struktur dasar bahasa Alquran, berikut pemaknaannya, agar mencapai dua tujuan sekaligus: bisa membaca dan bisa mengerti isi teks yang dibaca. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Arab berabasis Alquran target minimalnya adalah penguasaan keterampilan reseptif (maharat istiqbaliyyah), yaitu membaca.
Pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran juga diinspirasi dan digerakkan oleh 4 ayat dalam surat al-Qamar tersebut, bahwa Alquran (tentu saja termasuk bahasanya) telah dimudahkan oleh Allah untuk dipelajari. Janji Allah ini pasti ditepati, selama pemelajar memiliki kemauan kuat untuk belajar bahasa Arab. Motivasi utama yang patut dijadikan sebagai penggerak pemelajar adalah bahasa Arab itu bagian integral dari Alquran, sehingga mempelajari dan membelajarkan bahasa Arab mempunyai nilai plus, tidak hanya merupakan proses intelektualisasi pemelajar, tetapi juga spiritualisasi yang membuahkan keuntungan duniawi dan ukhrawi.
Dalam ungkapan Ibn Taimiyah, “Bahasa Arab itu bagian takterpisahkan dari agama. Apabila urusan agama (seperti pemahaman ayat Alquran dan hadits Nabi SAW) tidak dapat terwujud tanpa menguasai bahasa Arab, maka belajar dan membelajarkan bahasa Arab menjadi wajib.” Kesadaran mental spiritual bahwa bahasa Arab itu bagian integral dari Islam penting ditumbuhkembangkan, karena bahasa Arab kerap kali mengalami stigmatisasi buruk dan negatif sebagai bahasa yang sulit dan rumit untuk dikuasai. Stigmatisasi semacam ini kerap diberikan oleh para penjajah, orientalis, dan orang-orang yang membenci Islam dan tidak suka bahasa Arab.
Padahal faktanya tidak demikian. Dalam linguistik, tidak dikenal bahasa sulit dan bahasa mudah, apalagi bahasa unta sebagai ungkapan pejoratif dan stigma negatif terhadap bahasa Arab. Masing-masing bahasa di muka bumi ini memiliki tingkat kerumitan dan kemudahannya sendiri-sendiri. Karena setiap bahasa memiliki sistem bunyi (fonologi), sistem tatakata (morfologi), sistem tatakalimat (sintaksis) dan sistem makna (semantik) yang tidak sama, berbeda satu sama lain. Meskipun demikian, para linguis berpendapat bahwa semua bahasa di dunia memiliki kesemestaan (universalia), kesamaan yang berlaku universal, yaitu sama-sama memiliki kosakata, tatakata, tatakalimat, dan sistem makna.
Pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran tidak semata-mata dirancang untuk mendekatkan tujuan awal diformulasikan dan dikembangkannya ilmu bahasa Arab. Akan tetapi, secara fungsional dan pragmatik, orientasi utama mayoritas pemelajar bahasa Arab itu belajar dan menekuni bahasa Arab adalah untuk pemahiran keterampilan membaca teks, membaca literatur dan sumber-sumber ajaran Islam. Hal ini juga sejalan dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi SAW, yaitu perintah membaca (iqra’) (QS al-‘Alaq/96: 1 dan 3). Perintah ini tidak hanya memberi isyarat terkait pentingnya membaca, baik tertulis (ayat-ayat Qur’aniyyah) maupun yang tidak tertulis (ayat-ayat kauniyyah), tetapi juga menunjukkan signifikansi orientasi maharah al-qira’ah (keterampilan membaca).
Melalui pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran, selain contoh-contoh dari ayat-ayat Alquran dapat dijadikan model dalam penambahan, peningkatan, pengayaan kosakata baru, pengkaidahan nahwu dan sharaf, penghayatan keindahan balaghahnya, kontekstualisasi penerjemahannya, dan latihan-latihan kebahasaaraban lainnya yang memperkuat keterampilan berbasaha Arab. Alquran sebagai basis pembelajaran bahasa Arab sejatinya membuka lahan baru berupa pengembangan korpus linguistik Alquran, sehingga penelitian dan pengembangan keilmuan bahasa Arab.
Akhirul kalam, bahasa Arab itu bukan hanya bahasa identitas budaya Arab dan Islam, tetapi juga menjadi ikon dan poros penelitian dan pengembangan keilmuan Islam dan bahasa Arab. Menista dan menghina bahasa Arab sebagai ciri teroris atau menilai kitab kuning sebagai sumber kesesatan dan paham radikal merupakan kebodohan yang memalukan. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, mempelajari bahasa Arab berbasis Alquran menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak untuk membuka cakrawala berpikir dan melembutkan hati untuk mengapresiasi dan mengaktualisasikan bahasa Arab sebagai bahasa wahyu, bahasa kitab suci Alquran dalam penguasaan dan pengembangan keilmuan Islam dan bahasa Arab.
Sumber: Majalah Tabligh Edisi No. 10/XIX Rabiul Awal 1443/Oktober 2021. (mf)
Views: 14,167
PREVIOUS POST
Lulus UCLA School of Law, Zezen Zaenal Mutaqin Raih Doktor Hukum
NEXT POST
FSH UIN
10 Agustus 2023
CSSN UIN Jakarta




