Jumat, 26 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022
TENTANG DAJJAL
AL-MASIH AD-DAJJAL
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
13. Penyebutan Dajjal Dalam al-Qur-an
Para ulama bertanya-tanya tentang hikmah tidak disebutkannya Dajjal secara jelas di dalam al-Qur-an padahal fitnahnya sangat besar. Demikian pula peringatan para Nabi terhadapnya (dalam al-Qur-an), juga perintah agar me-mohon perlindungan dari fitnahnya di dalam shalat. Mereka menjawabnya dengan beberapa jawaban di antaranya:
a. Sesungguhnya Dajjal diungkapkan dalam kandungan lafazh اَلآيَاتُ (tanda-tanda) yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
“… pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu…” [Al-An’aam: 158]
Tanda-tanda yang dimaksud adalah Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan binatang. Semuanya diungkapkan dalam penafsiran ayat ini.
Imam Muslim dan at-Tirmidzi رحمهما الله meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ إِذَا خَـرَجْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِـيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا: طُلُوْعُ الشَمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالُ، وَدَابَّةُ اْلأَرْضِ.
‘Ada tiga hal yang jika keluar, maka tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau (belum) berusaha berbuat kebaikan dengan imannya itu: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang bumi.’” [1]
b. Sesungguhnya al-Qur-an menyebutkan turunnya Nabi ‘Isa Alihissallam, dan Nabi ‘Isalah yang akan membunuh Dajjal. Maka menyebutkan Masiihul Huda sudah cukup, sehingga tidak perlu menyebutkan Masihudh Dhalaa-lah. Dan kebiasaan orang Arab adalah merasa cukup dengan menyebut-kan salah satu yang berlawanan tanpa menyebutkan yang lainnya.
c. Sesungguhnya dia (Dajjal) di sebutkan dalam firman-Nya:
لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” [Al-Mu’min: 57]
Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia di sini adalah Dajjal, ayat ini termasuk pengungkapan semua komponen untuk sebagian darinya.
Abul ‘Aliyah rahimahullah[2] berkata, “Maknanya adalah lebih besar daripada penciptaan Dajjal ketika kaum Yahudi membesar-besarkannya.” [3]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dan ini -jika memang telah tetap- merupakan sebaik-baiknya jawaban, maka termasuk tanggung jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskannya, wallaahu a’lam.” [4]
d. Sesungguhnya al-Qur-an tidak menyebutkan Dajjal secara jelas sebagai pelecehen terhadapnya karena dia telah mengaku sebagai tuhan padahal dia adalah manusia, di mana keadaan sangat bertentangan dengan kemuliaan Rabb, keagungan, kesempurnaan, dan kesuciaan-Nya dari segala kekurangan, karena dia sangat hina di sisi Allah dan sangat kecil sehingga tidak pantas untuk disebutkan (di dalam al-Qur-an). Walaupun demikian, para Nabi memberikan peringatan akan kedatangannya, menjelaskan bahaya fitnahnya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Sesungguhnya se-tiap Nabi telah memberikan peringatan akan (kemunculannya) dan mem-berikan peringatan terhadap fitnahnya.
Jika ada bantahan (terhadap ungkapan tersebut) dengan pernyataan bahwa al-Qur-an pun telah menyebutkan Fir’aun padahal dia telah mengaku sebagai tuhan yang disembah, maka jawabannya bahwa masalah Fir’aun telah berlalu dan selesai, hal ini disebutkan sebagai pelajaran bagi manusia. Adapun masalah Dajjal, maka sesungguhnya ia akan terjadi pada akhir zaman. Tidak disebutkannya hal ini dalam al-Qur-an sebagai cobaan bagi manusia, padahal pengakuannya sebagai tuhan lebih jelas, sehingga tidak perlu diberikan perhatian atas kebathilannya karena Dajjal sangat nampak kekurangannya, jelas keburukannya, dan kerendahannya lebih jelas daripada pengakuan yang di-serukannya. Maka Allah tidak mengungkapkannya (di dalam al-Qur-an), karena Allah Ta’ala mengetahui dari para hamba-Nya yang beriman bahwa hal seperti ini tidak samar bagi mereka, dan tidak menambah mereka kecuali keimanan dan rasa berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang dikata-kan oleh si pemuda yang dibunuh oleh Dajjal, “Demi Allah, sungguh aku lebih yakin kepadamu pada hari ini bahwa engkau adalah Dajjal.”[5]
Baca Juga Pasal Ketujuh : Setelah Matahari Terbit Dari Barat Iman Dan Taubat Tidak Lagi Diterima
Terkadang sesuatu tidak disebutkan karena telah jelas, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit menjelang kematiannya tidak menulis surat bahwa yang akan menggantikannya adalah Abu Bakar Radhiyallahu anhu karena hal itu memang sudah jelas. Hal itu disebabkan kedudukan Abu Bakar yang agung di sisi para Sahabat Radhiyallahu anhuma, karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ.
“Allah dan orang-orang yang beriman enggan, kecuali kepada Abu Bakar.” [6]
Ibnu Hajar rahimahullah mengungkapkan bahwa pertanyaan mengenai tidak adanya penyebutan secara jelas tentang Dajjal di dalam al-Qur-an senantiasa ada, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menyebutkan Ya’-juj dan Ma’-juj di dalam al-Qur-an, sedangkan fitnah mereka dekat dengan fitnah Dajjal.”[7]
Demikianlah, kami kira jawaban pertama lebih dekat, wallaahu a’lam. Maka Dajjal telah diungkapkan di dalam kandungan beberapa ayat dalam al-Qur-an, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam-lah yang berkewajiban untuk menjelaskan keumuman ayat tersebut (dan beliau sudah menerangkannya).
14. Binasanya Dajjal
Dajjal akan mati di tangan al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissallam, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits shahih. Hal itu bahwa Dajjal akan berkelana di seluruh permukaan bumi, kecuali Makkah dan Madinah, pengikutnya sangat banyak, fitnahnya menyeluruh dan tidak ada yang selamat darinya kecuali sedikit saja dari kaum mukminin, di saat itu turunlah Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam di atas menara timur di Damaskus, sementara hamba-hamba Allah yang beriman berkumpul di sekelilingnya hingga beliau berjalan bersama mereka menuju Dajjal. Adapun Dajjal sedang menghadap ke Baitul Maqdis ketika Nabi ‘Isa turun, lalu Nabi ‘Isa mendapatinya di pintu Ludd. Ketika Dajjal melihatnya, maka dia akan mencair seperti garam yang larut. Kemudian ‘Isa Alaihissallam berkata, “Sesungguhnya aku memiliki satu pukulan untukmu, engkau tidak akan luput dariku, akhirnya ‘Isa mendapatkannya dan membunuhnya dengan tombak dan para pengikutnya kalah, sehingga orang-orang yang beriman mengejar dan membunuh mereka hingga pepohonan dan bebatuan berkata, “Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini seorang Yahudi di belakangku, kemari, bunuh dia!” Kecuali gharqad karena ia adalah pohon orang Yahudi”. [8]
Pada kesempatan ini kami uraikan beberapa hadits yang menjelaskan kebinasaan Dajjal dan para pengikutnya
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِيْ أُمَّتِيْ… (فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ، وَفِيْهِ:) فَيَبْعَثُ اللهُ عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُوْدٍ، فَيَطْلُبُهُ، فَيُهْلِكُهُ.
Dajjal akan muncul pada umatku… (lalu dia menuturkan hadits, dan di dalamnya:) lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam seakan-akan ia adalah ‘Urwah bin Mas’ud, kemudian dia mencarinya dan membinasakannya.’” [9]
Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Majma’ bin Jariyah al-Anshari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَقْتُلُ ابْنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبَابِ لُدٍّ.
‘Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di pintu Ludd.” [10]
Baca Juga Pasal Kedua : Keluarbiasaan Dajjal Adalah Hal Yang Sebenarnya
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal… dan di dalamnya terdapat kisah turunnya Nabi ‘Isa dan terbunuhnya Dajjal, dan di dalamnya ada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang kafir yang mencium aroma nafasnya akan mati, dan aroma nafas-nya dapat tercium sejauh pandangannya. Lalu dia mencarinya, sehingga men-dapatkannya di pintu Ludd, kemudian dia membunuhnya.” [11]
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya dia berkata, “Dajjal akan muncul pada saat agama sudah tidak diperhatikan dan ilmu (agama) sudah ditinggalkan…” (lalu beliau menuturkan hadits, dan di dalamnya ada ungkapan:) “Kemudian Nabi ‘Isa bin Maryam turun, lalu beliau berseru pada waktu sahur, dia berkata, ‘Wahai manusia, apa yang menghalangi kalian untuk keluar menghadapi si pendusta lagi buruk ini?’ Mereka berkata, ‘Ini seorang laki-laki dari bangsa jin.’ Akhirnya mereka semua pergi. Tiba-tiba mereka berjumpa dengan Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam, kemudian iqamah shalat dikumandangkan. Dikatakan kepadanya, ‘Majulah untuk meng-imami kami, wahai Ruuhullaah!’ Beliau berkata, ‘Hendaknya imam kalian yang maju, dan menjadi imam bagi kalian,’ kemudian seusai melakukan shalat Shubuh, mereka semua keluar menemuinya (Dajjal).’ Beliau (Rasul) bersabda, ‘Ketika si pendusta melihatnya (Nabi ‘Isa), maka dia akan mencair bagaikan garam yang mencair di dalam air. Selanjutnya dia berjalan menujunya, lalu membunuhnya hingga pepohonan dan bebatuan berkata, ‘Wahai Ruuhullaah, ini orang Yahudi,” maka dia tidak meninggalkan seorang pun yang mengikutinya (Dajjal) melainkan dia membunuhnya.”[12]
Dengan terbunuhnya Dajjal -semoga Allah melaknatnya- oleh Nabi ‘Isa, maka berakhirlah fitnah yang besar, dan Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kejelekannya dan kejelekan para pengikutnya melalui tangan Ruuhullaah dan Kalimatullaah, ‘Isa bin Maryam q dan para pengikutnya yang beriman, hanya milik Allah-lah segala puji dan karunia.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab az-Zamanul Ladzi la Yuqbalu fiihil Iimaan (II/195, Syarh an-Nawawi), dan Jaami’ at-Tirmidzi fi Tuhfatil Ahwadzi (VIII/449).
[2]. Beliau adalah Rafi’ bin Mahran ar-Rayyahi, pernah menjadi tuan bagi al-Hasan al-Bashri yang merupakan salah satu tokoh Tabi’in, mendapatkan zaman al-Jahiliyyah dan masuk Islam setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meriwayatkan dari banyak Shahabat Radhiyallahu anhum, dan wafat pada tahun 90 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (III/284-285).
[3]. Tafsiir al-Qurthubi (XV/325).
[4]. Fat-hul Baari (XIII/92).
[5]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab La Yadkhulud Dajjal al-Madinah (XIII/101, al-Fat-h).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Fadhaa-il, bab Fadhaa-il Abi Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu (XV/155, Syarh an-Nawawi).
[7]. Fat-hul Baari (XIII/91-92, al-Fat-h).
[8]. Ludd adalah sebuah daerah di Palestina dekat Baitul Maqdis.
Lihat Mu’jamul Buldaan (V/15).
[9]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128-129) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[10]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/75-76, Syarh an-Nawawi).
[11]. Al-Fat-hur Rabbaani Tartiibu Musnad Ahmad (XXIV/83), dan at-Tirmidzi (VI/513-514, Tuhfatul Ahwadzi)
[12]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/67-68, Syarh an-Nawawi).
Al-Fat-hur Rabbaani Tartiib Musnad Ahmad (XXIV/85-86).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan dua sanad, perawi salah satunya adalah perawi ash-Shahiih.” Lihat Majmaa’uz Zawaa-id (VII/344).
Home/Kitab : Hari Kiamat.../Pasal Kedua : Penyebutan...
🔍 Hukum Membaca Shadaqallahul Adzim, Fadilah Zikir, Penyebab Doa Tidak Dikabulkan, Kekuatan Doa Dalam Islam, Tanda Tanda Kiamat Qubra
🔗 SSD VPS
Referensi : https://almanhaj.or.id/3246-pasal-kedua-penyebutan-dajjal-dalam-al-qur-an.html
Selasa, 16 Agustus 2022
Renungan Kehidupan
*SEBUAH RENUNGAN* Harta kekayaan melimpah ruah, istri cantik, segala sesuatunya dapat terpenuhi sesuai kehendak dan keinginan dalam sekejab saja. Namun harta kekayaan yg berlimpah ruah sebagian besar didapat dg cara yg tdk wajar. Keberadaan itu berlangsung dlm kurun waktu dlm usia yg relatif muda dan dg kondisi kesehatan prima. Yang pasti kebahagian secara lahiriyah terpenuhi dan dpat mewujudkan apapun bentuk kebahagiaan yg diinginkan ,dari bntuk kebahagiaan yg halal maupun yg haram.
Namun kalau kebahagiaan secara batiniyah, entahlah..., yg pasti tiada rumus yg mngatakan bhwa kebahagian atau rasa kesejahteraan atau ketenteraman dpt trwujud dari jalan atau cara yg tdk benar.
Dan krn ada saja jalan , faktor atau sebab yg mmbuat ketidak nyamanan, yg mmbuat ketidak tenteraman batinnya, kelabilan jiwa fikiran yg mmbuat hilangnya arti kebahagian dan ketenteraman secara lahir maupun batin.
Hingga pada suatu waktu tibalah hukuman Yang Maha Kuasa, terjadilah suatu peristiwa yang membuat berantakan. Kedudukan , jabatan, status menjadi hancur. Sumber pendapatan menjadi tercerabut, keluarga istri mnjadi tak menentu, gengsi kehormatan tiada lagi. Tiada jelas dan tiada tempat mengadu. Tinggallah ratapan dan ktersiksaan. Maha benar FirmanNYA, kurang lebihnya menegaskan "jangan terpedaya dengan kehiduvpan dunia" Surat Luqman Ayat 33
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.
Minggu, 07 Agustus 2022
BURUNG GARUDA
Sungguh menakjubkan, penampakan burung garuda, di Jawa Timur. Luar biasa, dg penampilan seperti burung garuda lambang Negara Indonesia. Allahu Akbar.........
Minggu, 10 Juli 2022
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail
Berqurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Sejarah qurban dalam Islam berawal dari kisah Nabi Ibrahim bersama putranya, Sejarah qurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail.
Hari Raya Qurban termasuk dari 2 perayaan besar dalam agama Islam. Setiap tanggal 10 Zulhijjah berdasarkan penanggalan Hijriyah, umat muslim diseluruh dunia memperingatinya sebagai hari raya Idul Adha atau sebagai hari berqurban.
Setiap tahun pada hari hari kesepuluh bulan Zulhijjah itu, kaum muslim diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban. Kambing atau domba, sapi, dan unta umumnya dijadikan hewan qurban.
Sejarah Qurban dalam Islam: Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail
Sejarah qurban berhubungan dengan perintah Allah yang mulanya diturunkan kepada Ibrahim alaihissalam. Ibrahim termasuk nabi terbaik yang mendapat julukan ulul azmi.
1. Ibrahim mendambakan buah hati
Diceritakan, Nabi Ibrahim telah lama mendambakan kehadiran seorang anak. Sampai Ibrahim mulai menua, ia tak kunjung memiliki keturunan. Maka ia pun berdoa kepada Allah SWT agar kiranya dianugerahi anak keturunan yang saleh.
Doa Nabi Ibrahim ini diabadikan dalam Al Qur'an:
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh." (QS. As-Saffat: Ayat 100)
2. Kelahiran Ismail.
Karena kesungguhannya dalam berdoa, Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Istri keduanya yang bernama Siti Hajar akhirnya mengandung. Kemudian lahirlah putra pertama Nabi Ibrahim yang diberi nama Ismail.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)." (QS. As-Saffat: Ayat 101)
Nabi Ibrahim tentu senang dengan kelahiran Ismail. Ia amat menyayangi putra pertamanya itu.
3. Ismail dan ibunya dipindahkan ke Mekkah atas perintah Allah
Namun tak berselang lama setelah kelahiran Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk memindahkan Siti Hajar dan Ismail ke Kota Mekkah. Keduanya bermukim di suatu tempat yang kelak di sana akan di bangun Ka'bah.
Kota Mekkah adalah negeri padang pasir yang tandus, dengan matahari terik menyengat. Tak ada pepohonan dan sumber air, hanya batu dan pasir sejauh mata memandang.
Karena keadaan Mekkah yang demikian itu, Siti Hajar menjadi risau. Bagaimana mungkin ia akan hidup berdua di tempat seperti itu bersama Ismail yang masih bayi?
Siti Hajar pun menangis sedih. Ia tak sanggup jika harus ditinggalkan oleh Ibrahim di sana. Namun Ibrahim tak bisa berbuat apa-apa sebab hal itu sudah menjadi perintah Allah.
Dengan berat hati Ibrahim terpaksa meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang gersang. Ia lalu melanjutkan perjalanan. Tatkala kedua orang kesayangannya itu telah hilang dari pandangannya, Nabi Ibrahim berdoa agar Allah memberikan keselamatan dan perlindungan kepada mereka.
4. Hajar tak bisa menyusui Ismail
Maka tinggallah Hajar dan putranya di Kota Mekkah yang tandus. Hingga suatu ketika persediaan bekal yang dimilikinya habis, Hajar lapar dan kehausan yang menyebabkan air susunya menjadi kering.
Ismail yang masih bayi pun menangis karena tak bisa menyusu. Hajar bingung dan kalut. Ia berlarian ke sana kemari berusaha mencari sumber air di sekitar mereka.
Hajar berlari antara Bukit Shafa dan Marwah. Dari bukit Shafa, ia melihat sumber air nampak ada di Bukit Marwah.
Kemudian berlarilah Hajar ke Bukit Marwah. Setibanya di sana, yang disangka air ternyata cuma bayangan. Ia terus berlari bolak-balik Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali.
5. Munculnya mata air zam-zam
Cerita Anak Islami: Sejarah Qurban Idul Adha, Nabi Ismail Disembelih Ayahnya
Hajar pun kelelahan. Lalu ia mendengar suara yang mengarah pada tempat di mana Ismail dibaringkan dalam keadaan menangis dan meronta menghentak-hentakkan kaki.
Tiba-tiba, di dekat kaki Ismail muncullah sumber air yang memancar. Hajar senang bukan kepalang. Ia pun berseru, "Zamzam! (berkumpullah)."
Dengan tergesa, Hajar segera menampung air itu. Ia sangat bersyukur, di saat-saat gentingnya ternyata Allah menurunkan pertolongan.
6. Ismail tumbuh besar
Cerita Anak Islami: Sejarah Qurban Idul Adha, Nabi Ismail Disembelih Ayahnya
Seiring berjalannya waktu, Ismail tumbuh menjadi anak cerdas, saleh, dan berbudi baik. Sesuai doa yang dipanjatkan ayahnya.
Ketika Ismail beranjak besar, datanglah sebuah perintah dari Allah kepada Ibrahim. Perintah yang hendak menguji seberapa besar keimanan dan ketakwaan Ibrahim serta kesabaran Ismail.
7. Sejarah qurban: Mimpi Nabi Ibrahim
Pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi. Melalui mimpinya tersebut, ia diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya. Ibrahim pun menjadi teramat sedih.
Bayangkan saja, anak yang sudah dinanti-nantikan kehadirannya sekian lama, harus disembelih oleh tangannya sendiri. Sungguh berat ujian yang diterima Ibrahim.
8. Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya
Namun bagaimana pun, perihal mimpi itu tetap diceritakan Nabi Ibrahim kepada sang anak. Lalu Ibrahim menanyakan bagaimana pendapat Ismail.
Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah. Untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan anak, beliau tidak serta merta 'main' perintah. Ia bahkan meminta pendapat si anak lebih dulu.
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" (QS. As-Saffat: Ayat 102)
Hal ini mencerminkan demokrasi dalam keluarga, yang sayangnya tidak banyak diterapkan dalam keluarga masa kini. Kebanyakan orangtua dengan egois memutuskan sendiri hal besar yang berpengaruh pada masa depan anaknya.
9. Sejarah qurban: Ismail bersedia disembelih
Respon yang diberikan Ismail pun sungguh di luar dugaan. Ia menerima perintah tersebut dengan rela hati.
Tentang kesabaran Ismail ini, Allah memujinya dalam Al Quran.
"Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat: Ayat 102)
Maka tibalah saat yang ditentukan untuk melaksanakan penyembelihan. Ismail pun dibaringkan. Dengan mata basah berlinang air mata, Ibrahim memegang pedang yang sudah disiapkan.
10. Sejarah qurban: Ismail digantikan domba
Cerita Anak Islami: Sejarah Qurban Idul Adha, Nabi Ismail Disembelih Ayahnya
Ketika Ibrahim telah meletakkan pedang di leher Ismail, datanglah Malaikat Jibril. Ia mengganti Ismail dengan seekor domba yang gemuk.
Allah SWT berfirman:
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. As Saffat: Ayat 103-105)
Nabi Ibrahim memberikan kita teladan yang berharga. Ia ikhlas dan sabar menerima perintah untuk menyembelih putranya sendiri, sehingga Allah menggantinya dengan seekor domba.
Ibadah qurban adalah simbol bagi setiap muslim untuk 'menyembelih' dan mengorbankan kecintaan terhadap hal duniawi agar mendapat keridaan Allah SWT.
Demikianlah sejarah qurban dalam Islam yang bermula dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Semoga cerita tentang sejarah qurban ini bisa menjadi inspirasi.
