"HARGA LEGITIMISASI DI MESIR"
Jumat, 23 Agustus 2013
H. Tb. SUHARTONO, Lc, MA
(Sekjen Komnas Kemanusiaan dan Demokrasi Mesir)
Terlalu sederhana jika melihat situasi di Mesir sebagai pertikaian
politik saja. Pertarungan politik yang sesungguhnya adalah pertarungan
kotak suara. Begitulah tradisi demokrasi yang sehat. Faktanya,
pertumpahan darah terus terjadi. Bahkan, melegenda dalam parade
pembantaian massal dalam waktu kurang dari dua bulan masa berkuasanya
rezim militer.
Tragedi berdarah di Garda Republik, Monumen Sadat, Nahdhoh Square,
Masjid Rab'ah, Ramses Square bahkan di seluruh lokasi aksi damai di
penjuru Mesir menjadi tragedi kemanusiaan terkeji sepanjang sejarah
Mesir, bahkan sejarah kehidupan manusia. Hingga kini korban dari rakyat
sipil terus berjatuhan hingga menembus angka 6.000 jiwa. Apakah ini
disebut konflik politik?
Dr Rofik Habib, penulis dan pemikir kristen koptik, memberi tinjauan
analisis atas peristiwa di Mesir sebagai pertarungan jati diri bangsa
Mesir. Pergolakan menentukan identitas negara (huwiyyatul wathan). Dalam
wawancaranya di Washington Post, Jenderal Abdul Fattah al-Sisi
mengungkap sebab utama yang mendorong militer menggulingkan presiden
terpilih. Dia katakan, "Presiden Mursi dan Jamaahnya membawa identitas
Islam yang bertentangan dengan identitas bangsa."
Berarti selama ini militer menganut identitas sendiri, karena menolak
realita masyarakat yang mayoritas mendukung Islam sebagai dasar
konstitusi. Jadi, menurut dia, kelompok besar umat Islam yang hidup di
Mesir tidak merepresentasikan bangsa Mesir, bahkan perlu diwaspadai atau
disingkirkan karena bertentangan dengan identitas dan jati diri bangsa.
Ini berarti militer menolak kenyataan pilihan sebagian besar rakyat
Mesir. Ini sebenarnya bukanlah masalah, yang menjadi masalah besar
adalah proses pengukuhan identitas bangsa yang ditempuh dengan cara
kasar dan paksa. Cara yang diingkari aturan hidup berdemokrasi. Cara
bersenjata yang merengut ribuan warga sipil.
Kaum Islamis yang sudah lebih dari setengah abad hidup tertindas dan
penuh ancaman semasa rezim militer berkuasa di Mesir, pascarevolusi 25
Januari 2011, merasa yakin bahwa Mesir saat ini telah betul-betul
berubah. Betapa mengharu birunya saat kaum Muslimin di Mesir mampu
menghirup udara kebebasan di negeri mereka sendiri.
Aktivitas dakwah dan ibadah begitu terbuka. Berbagai ormas Islam baik
yang lama maupun yang baru leluasa menyelenggarakan kegiatan keagamaan
dan bakti sosial. Bahkan, mereka dengan suka cita ikut serta dalam pesta
demokrasi pertama. Tanpa ada keraguan dan kecurigaan mereka masuk
gelanggang politik.
Kaum Islamis merasa nyaman karena selalu menjadi pemenang dalam lima
kali pemilu (pasca Revolusi 25 Januari -ed); Pileg DPR (28 November 2011
- 11 Januari 2012, Kaum Islamis peroleh lebih dari 70 persen), Pileg
MPR (29 Januari 2012 - 22 Februari 2012, Kaum Islamis peroleh lebih 80
persen), Pilpres tahap I (23-24 Mei 2012), Pilpres tahap II (16-17 Juni
2012), dan Referendum konstitusi (15 Desember 2012/ 63,8 persen vs 36,2
persen).
Kemenangan demi kemenangan membuat lengah kaum Islamis dan membuat gerah
kaum sekuler liberal bahkan mengundang kekuatan regional dan
internasional untuk mematahkan arus demokrasi ini (Arab Spring) supaya
tidak menjalar ke negara-negara Timur Tengah, khususnya negara-negara
monarki di kawasan teluk. Tak heran jika Arab Saudi, Uni Emirat Arab,
Kuwait, dan Bahrain berlomba-lomba mendukung rezim militer Mesir.
Gejala keanehan mulai terendus, berawal dari pembubaran DPR, pembatalan
konstitusi hasil referendum, pembubaran MPR, hingga kudeta berdarah yang
memilukan jiwa dimana pada tahun ini, bulan suci Ramadan di Mesir
menjadi bulan pertumpahan darah. Dan bulan kemenangan Syawal ini menjadi
bulan matinya nurani kemanusiaan, bulan terkuburnya nilai-nilai luhur
demokrasi.
Sungguh, antrean panjang selama 15 jam di TPS-TPS jauh lebih aman
terjamin dari pada harus pedih menderita akibat rezim militer berkuasa
hingga bangsa terpuruk dan penuh genangan darah. Adakah di negara
demokrasi, lembaga yang dipilih rakyat dibubarkan lembaga yang dipilih
seorang presiden yang tidak sah (Mubarak)?
Ini terjadi di Mesir, saat DPR yang anggotanya dipilih rakyat dibubarkan
Mahkamah Konstitusi yang anggota-anggotanya dilantik Mubarak. Adakah di
negara demokrasi presiden yang terpilih hasil pilpres digulingkan oleh
seorang jenderal yang baru saja dilantik oleh sang presiden yang sah?
Ini terjadi di Mesir saat Menhan dalam Kabinet Mursi menggulingkan
Mursi.
Pesta demokrasi di Mesir yang telah berlangsung dengan lima kali pemilu
kini menjadi legenda. Musim semi Arab telah berganti dengan musim
pembantaian massal di setiap lokasi aksi damai menentang kudeta
berdarah.
Sungguh, perjuangan rakyat sipil di Mesir bukan pergolakan kaum Islamis
yang sedang menuntut hak-hak politik, tapi perjuangan mempertahankan
legitimasi. Menegakkan kedaulatan rakyat. Menghadapi tirani politik.
Melawan sindikat kekuasaan yang memiliki uang dan senjata.
Jika tidak dihentikan, kita khawatir legitimasi kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi hukum rimba. Jika tidak segera dibendung, kita khawatir arus inhumaity, matinya nurani kemanusiaan dan gelombang penodaan demokrasi menular ke negara-negara lainnya. ***
Jika tidak dihentikan, kita khawatir legitimasi kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi hukum rimba. Jika tidak segera dibendung, kita khawatir arus inhumaity, matinya nurani kemanusiaan dan gelombang penodaan demokrasi menular ke negara-negara lainnya. ***
*HU. Republika: 22/8/2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar