Dendam Politik Raja Saudi terhadap
Mursi
21 August 2013
Raja
Abdullah sebagai Penguasa Arab Saudi atau kita sebut ‘Pak Lah’ bersama trio
‘kwek-kwek’ nya Raja Uni Emirat Arab (UEA), Raja Bahrain dan Emir Kuwait
plus Penguasa Jordania serta diamini oleh Presien Irak, mati-matian berdiri di
belakang Rezim Kudeta Mesir yang dikomandoi oleh Jenderal As-Sisi. Anehnya, di
saat berbagai pemimpin dunia mengutuk tragedi pembantaian paling sadis di abad
modern ini, Pak Lah cs justru berada di garda depan dalam melawan arus publik
dunia dan tak bergeming dalam menyuarakan dukungannya kepada penguasa illegal,
Abdel Fattah As-Sisi. Bahkan hanya dalam hitungan jam pasca terjadinya kudeta
terhadap penguasa sah Mesir, Presiden Muhammad Mursi, Pak Lah dan sohibnya di
kawasan emirat justru berada di garda terdepan memberikan ucapan selamat kepada
Fir’aun Modern As-Sisi. Sementara AS sendiri masih ‘malu-malu kucing’ menyebut
peristiwa tersebut sebagai kudeta.
Lho,
lalu apa hubungannya antara Pak Lah cs dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi
di Mesir?
Jika kita membuka lembaran klipping media, tentunya sikap yang ditunjukkan oleh para penguasa kerajaan kawasan Arab tersebut bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Sejatinya, Pak Lah cs sangat terusik dengan apa yang terjadi di Mesir. Sebab fenomena Arab Spring yang terjadi di Semenanjung Arabia telah mengantarkan para aktifis Partai Islam sebagai pemimpin baru menggantikan rezim penguasa yang otoriter, seperti di Tunisia, Libya, Maroko dan terakhir Mesir. Apalagi lagi keberhasilan Mursi yang kader tulen Ikhwan menjadi orang nomor satu di Negeri Piramid, dipandang akan sangat mengancam kestabilan eksistensi dinasti keluarga kerajaan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Dan memang selama inipun Pak Lah cs telah menjadikan Ikhwanul Muslimun sebagai seteru abadinya.
Jika kita membuka lembaran klipping media, tentunya sikap yang ditunjukkan oleh para penguasa kerajaan kawasan Arab tersebut bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Sejatinya, Pak Lah cs sangat terusik dengan apa yang terjadi di Mesir. Sebab fenomena Arab Spring yang terjadi di Semenanjung Arabia telah mengantarkan para aktifis Partai Islam sebagai pemimpin baru menggantikan rezim penguasa yang otoriter, seperti di Tunisia, Libya, Maroko dan terakhir Mesir. Apalagi lagi keberhasilan Mursi yang kader tulen Ikhwan menjadi orang nomor satu di Negeri Piramid, dipandang akan sangat mengancam kestabilan eksistensi dinasti keluarga kerajaan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Dan memang selama inipun Pak Lah cs telah menjadikan Ikhwanul Muslimun sebagai seteru abadinya.
Di
samping itu, Presiden Muhammad Mursi dianggap telah mengusik kepentingan
AS dan Zionis Israel di kawasan Timur Tengah. Eksistensi Israel selaku sekutu
abadi AS sangat terancam dengan kepemimpinan kader Ikhwan tersebut. Makanya AS
berusaha menggandeng sekutunya di kawasan Teluk, agar Israel terlindung
dari bahaya Arab Spring yang terjadi di Mesir. Di balik itu juga adanya
benang merah kepentingan antara AS dan Negara-negara Arab untuk menjaga
kepentingan strategis mereka di Terusan Suez. Belum lagi, sikap tegas Mursi
yang secara lantang mendukung perjuangan Rakyat Palestina dan memutuskan
hubungan diplomatic dengan Rezim Bashar Al-Assad di Suriah, telah membuat murka
AS dan Israel.
Belum
lagi selama setahun menakhodai Mesir, Mursi benar-benar memberikan kebebasan
menyatakan pendapat kepada siapa saja, tak terkecuali kepada para pengkritiknya
sekalipun. Tak ada penangkapan terhadap ‘musuh’ politik Presiden Mursi yang
berasal dari kalangan sekuler, liberal, sosialis, koptik, dan muslim ambigu,
meski mereka sepanjang tahun mengganggu jalannya pemerintahan Mursi. Begitu
juga tak satupun media yang dibredel, meski media tersebut memutarbalikkan
fakta dan mendiskreditkan Presiden Mursi.
Kebebasan
inilah yang paling ditakutkan oleh para Raja Arab sekutu AS tersebut. Mereka
meyakini bahwa kesuksesan Mursi memimpin Mesir akan membangkitkan semangat
keislaman dan meningkatkan izzah Bangsa Arab, sehingga akan berdampak
pada terganggunya kestabilan politik di Negara Pak Lah cs yang menganut sistem monarkhi
(kerajaan) yang cenderung otoriter. Mereka sangat khawatir jika ada rakyatnya
mengatakan, “Saksikan, apa yang terjadi, mereka sukses menggulingkan diktator.
Mengapa tidak terjadi di negeri kita?”. Karenanya Pak Lah cs perlu memastikan
bahwa suhu politik di negaranya tetap bersih dari pengaruh orang-orang yang
dibeli label ‘teroris’ tersebut, agar para raja dan Putra Mahkota kerajaan
melenggang mulus menuju ke singgasana kerajaan dan tetap menikmati kehidupan
mewah dan gelimangan harta melimpah ruah yang sudah turun temurun.
Makanya
tak mengejutkan jika Pak Lah cs dengan arahan ‘sang sutradara’ AS, Zionis
Israel plus persetujuan Eropa, sejak awal sudah men-support
habis-habisan Jenderal As-Sisi agar tak gentar melakukan kudeta terhadap
Presiden Mursi. Pak Lah dan kompariotnya pun tak segan menggelontorkan dana
segar hingga 16 milyar dollar US demi suksesnya ‘hajatan’ besar tersebut. Sebab
para juragan di negara petro dollar tersebut sangat khawatir, jika kader
Ikhwanul Muslimin tersebut diberikan keleluasaan ruang gerak dalam memimpin
negara, cepat atau lambat suhu politik seperti di Mesir akan menjalar ke negeri
mereka, yang ujung-ujungnya akan mengancam tampuk kekuasaan keluarga kerajaan
Pak Lah cs.
Lalu
mengapa Pak Lah cs tetap ngotot mendukung Fir’aun As-Sisi dan ‘boneka’
piaraannya seperti Presiden ‘ilegal’ Adly Mansour, PM el-Eblawi dan Mendagri
Mohammed Ibrahim, di saat Rezim Kudeta dalam kondisi terdesak akibat kutukan
dari berbagai penjuru dunia? Sementara AS selaku sang ‘sutradara’ yang telah
mensubsidi $1,3 miliar untuk militer Mesir, justru mulai ‘cuci tangan’ dan
mengkritik keras pembantaian di Rab’ah Adawiyah, bahkan membatalkan latihan
bersama dengan militer Mesir. Karena bagi Pak Lah cs, pembantaian demontran Pro
Mursi secara brutal yang dipertontonkan oleh tentara, polisi dan preman bayaran
As-Sisi, merupakan konsekuensi logis yang harus diterima oleh para ‘teroris’
yang hanya bersenjatakan Al-Qur’an dan melewati malam-malamnya dengan shalat
malam berjama’ah di Rab’ah Adawiyah dan Nahdhah .
Pak
Lah cs merasa bertanggung jawab untuk memotivasi As-Sisi agar tetap bersemangat
menghabisi rakyatnya setelah pembantaian di Rab’ah dan Nahdhah pada 14
Agustus 2013 yang telah menewaskan 6000-an orang yang melukai hampir 15.000
pendukung Mursi. Dan ternyata ‘obat kuat’ yang diberikan oleh Pak Lah cs
benar-benar mujarab, buktinya pada pada tanggal 16 Agustus 2013 atau
disebut ‘Jum’at Kemarahan’, As–Sisi kembali mempertontonkan
kebiadabannya dengan ‘meminum darah’ Rakyat Mesir hingga menelan korban 173
orang.
Sebagai
penyokong dan donator utama tentu Pak Lah cs memiliki beban moril untuk
memastikan bahwa Proyek Kudeta yang sudah disepakati jauh-jauh hari bersama
As-Sisi dengan settingan AS, Israel plus Eropa tetap berjalan ‘on the track’.
Bahkan Raja Saudi telah menyiapkan dana susulan hingga 5 miliar dollar US, jika
AS dan negara Eropa menarik subsidi bagi Rezim as-Sisi. Bagi Pak Lah cs selaku
penguasa dan juragan di Kawasan Arab, keberhasilan memusnahkan perjuangan
Rakyat Mesir yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimun akan lebih memudahkan
langkah-langkah mereka untuk menjaga suhu politik di negeri mereka tetap stabil
dan terkendali dari ancaman ‘teroris’ dan ‘pengacau’.
Terbukti
bahwa dendam politik yang menggerogoti Raja-raja Arab telah membutakan mata
hati, menulikan telinga, dan membungkam mulut mereka saat menyaksikan atraksi
pembunuhan dan pembantaian paling biadab di abad 21 ini. Syahwat melanggengkan
kekuasaan keluarga kerajaan, benar-benar telah memusnahkan empati Pak Lah cs.
Tak sedikitpun nurani mereka sebagai manusia tesentuh di saat menyaksikan
bayi-bayi ditembak tepat di dada dan kepalanya, para wanita yang memegang
mushaf Al-Qur’an diberondong secara membabibuta, puluhan pria digilas buldoser
hingga otaknya muncrat kemana-mana, ratusan tubuh dibakar dan dimusnahkan
barang buktinya, serta ribuan rakyat tak bersenjata meregang nyawa karena
dieksekusi secara sadis oleh tentara, polisi dan preman bayaran Fir’aun
As-Sisi.
Sungguh
hanya jiwa-jiwa yang keras hatinya dan telah terkikis nurani kemanusiaannya
yang tega membiarkan pembunuhan dan pembantaian terhadap mereka yang tak
bersenjata dan menyampaikan tuntutan secara damai. Padahal setiap kita bisa
melakukan perlawanan meski berada jauh dari negeri Mesir. Paling minimal dengan
menyelipkan seuntai do’a dan membukakan rasa empati dalam hati kita. Seperti
kata Perdana Mentri Turki, Recep Tayyib Erdogan, “Anda tak perlu menjadi
Rakyat Mesir untuk bersimpati, tapi Anda cukup menjadi manusia”.
*Farid
Nyak Umar, ST (berdomisili di Kota Banda Aceh)
Fb
: Farid Nyak Umar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar